BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Alhamdulillah,
shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga
dan sahabatnya.
Ya Allah, limpahkanlah
taufiq-Mu kepada kami dan kepada setiap orang yang mencintai dan mengamalkan
sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam.
Ya
Allah, sucikanlah hati kami dan hati saudara-saudara kami umat Islam dari
berbagai noda yang mengotorinya dan bukakanlah hati kami untuk menerima
kebenaran dari siapa pun datangnya.
Kejayaan
umat Islam adalah impian dan dambaan setiap muslim. Penerapan syari’at Allah
Ta’ala di muka bumi adalah idaman dan cita-cita setiap orang yang beriman.
Terwujudnya keadilan dengan sepenuh makna dan dalam segala aspek kehidupan umat
manusia adalah tujuan perjuangan setiap orang yang beriman kepada hari akhir.
Untuk
merealisasikan cita-cita luhur nan suci ini, syari’at Islam hanya mengajarkan
satu cara, yaitu mewujudkan keimanan yang benar dan amal yang shaleh selaras
dengan syari’at Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan Allah telah
berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan
amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa
di bumi, sebagaimana telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan
sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk
mereka, dan Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka
berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan
tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.Dan barangsiapa yang (tetap)
kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.” (QS. An Nur:
55)
Sebagaimana
Allah Ta’ala telah mengajarkan metode jitu untuk merealisasikan kejayaan kita
umat Islam, Allah Ta’ala juga memperingatkan kita dari petaka besar yang akan
meruntuhkan kejayaan dan segala kenikmatan yang ada pada mereka.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan ta’atlah kepada
Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu saling berselisih, sehingga kamu menemui
kegagalan dan hilanglah kekuatanmu.” (QS. Al Anfal: 46)
Amatilah,
pada ayat ini Allah Ta’ala menjadikan ketaatan kepada syari’at Allah dan
Rasul-Nya sebagi lawan dari perselisihan, dan perselisihan/perpecahan adalah
sumber/biang kerok bagi kelemahan serta hilangnya kekuatan dan kekuasaan umat
Islam.
Dan
bila kita mengurutkan kronologi kejadian di atas dengan terbalik, maka akan
menjadi seperti berikut: Berbagai kelemahan dan hilangnya kekuatan dan
kekuasaan umat Islam diakibatkan oleh adanya perselisihan dan perpecahan antara
mereka. Dan perselisihan/perpecahan adalah akibat langsung dari ketidaktaatan
umat Islam terhadap syari’at Allah dan Rasul-Nya.
Dan
sudah barang tentu, dan kita semua menyadari bahwa ketaatan kepada Allah dan
Rasul-Nya hanya akan dapat direalisasikan, bila kita benar-benar mengamalkan
Al-Qur’an dan As Sunnah, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallam, sahabatnya dan ulama’ terdahulu (salafus
sholeh).
Wasiat dari Allah ini
juga ditegaskan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda
beliau berikut:
“Janganlah kamu saling berselisih, karena umat
sebelummu telah berselisih, sehingga mereka binasa/runtuh.” (HSR Muslim)
Inilah
sumber permasalahan, dan inilah sumber kelemahan yang harus segera dibenahi dan
diperangi, yaitu adanya berbagai penyelewengan dari ajaran Al-Qur’an dan As
Sunnah. Inilah sebab terjadinya kemunduran sekaligus kekalahan umat Islam dari
selain mereka dalam berbagai aspek kehidupan.
Umat
Islam mundur dan kalah bukanlah karena kekurangan pengikut, atau kalah dalam
hal teknologi atau persenjataan. Akan tetapi sebab utamanya ialah apa yang
telah saya jabarkan di atas, yaitu umat islam pada zaman ini telah
terpecah-pecah pemahaman dan keimanannya, dan mereka berusaha mencari kemuliaan
dari selain jalan Allah dan Rasul-Nya, dan mencampakkan jauh-jauh syari’at yang
telah diajarkan dalam Al-Qur’an dan As Sunnah, sehingga keadaan mereka itu
seperti digambarkan dalam pepatah arab:
Kau dambakan
keselamatan, tapi engkau tak menempuh jalurnya
Sungguh bahtera tak kan
pernah berlayar di daratan
Oleh karena itu
berbagai upaya mereka hanyalah menambah berat petaka yang melanda umat, dan
bukan menguranginya.
Banyak
dari tokoh umat Islam menyeru dan menggalang kekuatan umat Islam untuk
mewujudkan kembali kejayaannya, dengan berbagai metode yang mereka yakini; ada
yang menempuh jalur parlemen untuk dapat mencapai pada kekuasaan, dan ada pula
yang menempuh jalur kekerasan, dan ada yang menempuh jalur-jalur lainnya. Akan
tetapi betapa sedikitnya tokoh umat Islam yang tetap istiqomah meniti jalur dan
metode yang pernah diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam,
yaitu jalur pembinaan masyarakat dengan ilmu yang shahih dan amal yang shaleh,
tanpa dinodai oleh syubhat, kesyirikan dan bid’ah.
Kisah
berikut adalah bukti nyata dan penjabaran gamblang tentang metode yang
diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam mewujudkan
kejayaan umat islam:
Tatkala
pasukan orang-orang Quraisy telah menghadang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa
sallam beserta kaum muslimin, dan kemudian terjadi negoisasi antara kedua belah
pihak, diantara tawaran yang ditawarkan oleh orang-orang Quraisy kepada beliau
shollallahu ‘alaihi wa sallam ialah tawaran yang disampaikan oleh ‘Utbah bin
Rabi’ah:
“Wahai keponakanku,
bila yang engkau hendaki dari apa yang engkau lakukan ini adalah karena ingin
harta benda, maka akan kami kumpulkan untukmu seluruh harta orang-orang
Quraisy, sehingga engkau menjadi orang paling kaya dari kami, dan bila yang
engkau kehendaki ialah kedudukan, maka akan kami jadikan engkau sebagai
pemimpin kami, hingga kami tidak akan pernah memutuskan suatu hal melainkan
atas perintahmu, dan bila engkau menghendaki menjadi raja, maka akan kami
jadikan engkau sebagai raja kami, dan bila yang menimpamu adalah penyakit
(kesurupan jin) dan engkau tidak mampu untuk mengusirnya, maka akan kami
carikan seorang dukun, dan akan kami gunakan seluruh harta kami untuk
membiayainya hingga engkau sembuh”.
Mendengar
tawaran yang demikian ini, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak lantas
menerima salah satu tawarannya yang berupa tawaran menjadi raja/pemimpin
–sebagaimana yang diteorikan oleh banyak harokah islamiyyah zaman sekarang-
agar dapat memimpin dan kemudian baru akan mengadakan perubahan undang-undang
dst. Nabi tetap meneruskan perjuangannya membentuk tatanan masyarakat muslim
yang beraqidahkan aqidah islam/tauhid dan berakhlakkan dengan akhlaq
islamiyyah. Oleh karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab tawaran
orang ini dengan membacakan surat Fushshilat (artinya):
“Haa Miim. Diturunkan
dari (Rabb) Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan
ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang
membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka
berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata:
“Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami
kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan di antara kami dan kamu ada
dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)”. Katakanlah:
“Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku
bahwasanya Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang
lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.Dan kecelakaan yang
besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu orang-orang yang
tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka
mendapat pahala yang tiada putus-putusnya”. Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah
kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan
sekutu-sekutu bagi-Nya (Yang bersifat) demikian itulah Rabb semesta alam”. Dan
Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia
memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya)
dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang
bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu
Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut
perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang
dengan suka hati” Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia
mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.Dan Kami hiasi langit yang dekat
dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan
sebaik-baiknya.Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
ika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan
petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan kaum Tsamud”. (QS. Fusshilat:
1-13)
Setelah Nabi
shollallahu ‘alaihi wa sallam sampai pada ayat ke 13 ini, Utbah bin Rabi’ah
berkata kepada beliau:
“Cukup sampai disini,
apakah engkau memiliki sesuatu (misi/tujuan) selain ini? Beliau shollallahu
‘alaihi wa sallam menjawab: Tidak.” [Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la,
Ibnu Hisyam 2/131, Dan Dalail An Nubuwah oleh Al Asbahani 1/194, dan kisah ini
dihasankan oleh Syeikh Al Albani dalam fiqhus sirah]
Inilah
sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah, dan inilah sunnah
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam menegakkan kejayaan umat. Dan barang
siapa menyelisihi metode ini, sehingga menempuh jalur lain, niscaya kekecewaan
dan kegagalanlah yang akan ia tuai Dalam pepatah dinyatakan:
“Barang siapa yang
tergesa-gesa ingin memetik sesuatu sebelum saatnya, niscaya ia akan dihukumi
dengan kegagalan mendapatkannya.”
Pendidikan
Islam telah dimulai sejak jaman Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad membangkitkan
kesadaran manuisa terhadap pentingnya pengembangan bidang keilmuan dan atau
pendidikan. Memang perintah Allah kepada nabi Muhammad adalah untuk membuka
pintu gerbang pengetahuan bagi manusia dengan mengajari atau mendidik. Nabi
Muhammad sebagai seorang yang diangkat sebagai pengajar atau pendidik
(mu’alim). Disamping itu beliau diperintahkan oleh Allah untuk menyebarkan
pesan-pesan Allah yang terkandung dalam Al-quran. Dapat dikatakan bahwa Nabi
Muhammad adalah pengajar atau pendidik muslim pertama.
Setelah
Rasulullah wafa maka pemerinah Islam dipegang secara bergantian leh Abu Bakar,
Umar bin Khtab, Ustman bin Afan, dan Ali bin Abi Thalib. Pendidikan islam pada
saat itu adalah pembudayaan ajaran agama Islam ke dalam lingkungan
budaya bangsa-bangsa sekitar jazirah Arab, yang berlangsung bersamaan dan
mengikuti berkembangnya wilayah kekuasaan islam. Proses pengembangan pendidikan
Islam pada masa ini sebagian besar memang diwarnai oleh pengajaran atau
pembudayaan Al-quran dan sunnah ke dalam lingkungan budaya bangsa-bangsa secara
luas pula. Para khalafaur Rasyidin dan sahabat adalah pelaku utama dalam
pendidikan islam pada masa itu. Yang kemudian digantikan oleh para tabiin,
namun berkembang sebagaimana masa sesudahnya. Begitu pula dalam hal pendidikan
Islam tidak jauh berbeda dengan masa Nai Muhammad SAW. yang menekankan pada
pengajaran baca tulis dan ajaran-ajaran Islam.
Dengan
berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin maka mulailah kekuasaan banu Ummayah serta
Bani Abbasiyah, yang menemui puncak kejayaan pendidikan Islam pada masa bani
Abbasiyah. Kemajuan yang tidak ada tantinannya di kala itu. Pada masa ini,
kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan pendidikan serta peradaban
dan kebudyaan, sehingga Islam mencapai masa keemasan, kejayaan dan
kegemilangan. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa Bani
Abbasiyah periode pertama.
BAB
II
KEJAYAAN
UMAT ISLAM SETELAH ROSULULLAH
(ABU
BAKKAR, UMAR BIN KHOTTOB, UTSMAN BIN AFFAN, ALI BIN ABI THOLIB)
Setelah
Rasulullah wafat, peradaban Islam member contoh bagaimana cara menegndalikan
negara dengan bijaksana (hikamt), kebijaksanaan ini adalah politik yang
mengandung hikmat, bergerak,berpikir, bertindak, berlaku, berbuat, yang dalam
istilah sekaran disebut taktik, strategi dalam diplomasi yang berbau kelincahan
dan kelicikan. Al-quran dan al-Hadits telah mentukan batas-batas yang
diperbolehkan dan yang tidak, serta memberikan jalan untuk berpikir ,
bermusyawarah, dan bertindak.
Setelah
Rasulullah wafat , maka pemerintahan Islam dipegang secara bergantian oeleh Abu
Bakar, Uamar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib. Pada masa Abu
Bakar, pada awal pemerintahannya diguncang oleh pemberontakan dari orang-orang
murtad, orang-orang yang mengaku Nabi, dan oranmg-orang yang tidak mau
membayar zakat. Oleh karena itu beliau memusatkan perhatian untuk memerangi
pemberontakan yang dapat mengacaukan keamanan dan dapat mempengaruhi
orang-orang Islam yang masih lemah imannya untuk menyimpang dari Islam.
Pada masa ini juga sudah terdapat
engajaran bahasa Arab, dengan dikuasainya wiyah baru oleh Islam, menyebabkan
munculnya keinginan untuk belajar bahasa Arab sebagai pengantar
diwilayah-wilayah tersebut. Orang-rang yang baru masuk Islam dari daerah-daerah
yang ditaklukan harus belajar bahasa Arab jika mereka ingin belajar dann
mendalam ajaran Islam.
Pada
masa khalifah utsman kedudukan peradaban Islam tidak jauh berbeda demikian juga
pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan dengan masa sebelumnya. Para sahaba
diperbolehkan dan diberi kelonggaran meninggalkan Madianh untuk mengajarkan
ilmu-ilmu yang dimiliki. Dengan tersearnya sahabat-sahant besar keberbagai
daerah meringankan umat Islam untuk belajar Islam kepada sahabat-sahabat ytang
tahu banyak ilmu Islam di daerah mereka sendiri atau daerah terdekat
Pada
masa ini pendidikan Islam adalah pembudayaan ajaran Islam kedalam lingkungan
budaya bangsa-bangsa disekitar jazirah Arab, yang berlangsung bersamaan dan
mengikuti berkembangnya wilayah kekuasaan Islam. Proses pengembngan pendidikan
Islam pada masa ini sebgaian besar memang diwarnai oleh pengajaran dan
pembudayan la-quran dan sunnah kedalam lingkungan budaya bangsa-bangsa secara
luas pula. Para khulafaur Rasidin dan sahabat adalah pelaku utama dalam proses
pendidikan pada masa ini, yang kemudian digantikan oleh para tabi’in, namun
berkembang sebagaiman masa-masa sesudahnya. Begitu pula dalam hal pendidikan
Islam tidak jauh berbeda dengan masa Nabi Muhammad SAW. yang menekankan pada
pengajaran baca tulus dan ajaran ajaran Islam disebabkan oleh perhatian umat
Islam terhadap perluasan wilayah Islam dan terjadinya pergolakan politik,
khsusunya dimasa ali bin Abi Thalib.
Perkembangan Pendidikan Islam di
Masa Muawiyah, Abbasiyah dan Kekhalifahan Selanjutnya
Dengan berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin maka mulailah
kekuasaan bani Umayyah. Selama pemerintahan Muawiyyah, daerah kekuasaan umat
Islam meluas sampai Lahore di Psakistan. Perharian khalifah diarahkan ke
Byzantine di wilayah utara dan barat. Pasukan Muawiyyah mencapai 1700 kapal perang,
membuat Muawiyyah dapat menundukkan banyak pulau diantaranya ialah Rodhes dan
pulau yang lain di Yunani. Adapun kemajuan penddidikan dan peradaban
Abbasiyahmencapai kejayaan terutama pama masa khalifah al-Mahdi dan puncak
popularitas baru setelah pemerintahan Harun al-Rasyid yang diteruskan putranya
al-Makmur.
Masa kejayaan ini ditandai dengan
perkembangan pesatnya kebudayaan Islam secara mandiri. Dengan berkembangnya
luasnya lembaga-lembaga pendidikan Islam, madrasah-masradah dan
universitas-uiversitas yang merupakan pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan
dan kebudayaan Islam. Pada masa ini pendidikan berkembang sebagai akibat dari
hal tersebut dan juga merupakan jawaban terhadap tantangan yang diakibatkan
oleh perkembangan dan kemajuan kebudayaan-kebudayaan islam sendiri yang
berlangsung sangat cepat. Tumbuh dan berkembangnnya ilmu pengetahuan dan kebudayaan
Islam yang sangat cepat, merupakan cirri pendidikan Islam masa ini. Pertumbuhan
dan perkembangan pada tahap awalnya memang merupakan perpaduan antara
unsure-unsur pembawaan ajaran Islam sendiri dengan unsure unsure yang berasal
dari luar, yaitu unsure budaya perseia, Yunani, Romawi, India, dan sebagainya.
Kemudian dalam perkembangannya potensi atau pembawaan Islam tidak merasa cukup
hanya menerima saja unsure budaya dari luar itu, kemudian mengembangkan lebih
jauh, sehingga kemudian warna dan unsure –unsur Islamnya Nampak lebih dominan
dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Kemajuan-kemajuan dalam
ilmu pengetahuan keagamaan saja, tetapi juga dalam berbagai cabang ilmu
pengetahuan pada umumnya.
BAB
III
KERAJAAN
TURKI UTSMANI
Kerajaan Turki Usmani Abad Pertengahan. Sejarah Berdirinya
Berawal dari Bangsa Turki dari kabilah Oguz yang mendiami wilayah Kerajaan
Mongol & Daerah utara negeri China, lalu pindah ke Turkistan, Persia dan
Irak. Mereka masuk Islam pada abad ke-9 M, saat di Asia Tengah. Adanya
serangan-serangan Mongol pada abad ke-13 M, membuat mereka melarikan diri ke
arah barat dan mencari tempat tinggal di tengah-tengah saudara mereka, orang
Turki Seljuk di dataran tinggi Asia Kecil. Di bawah pimpinan Ertogul, mereka
mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin Kaikobad, sultan Seljuk yang kebetulan
sedang berperang melawan Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alauddin
Kaikobad mendapat kemenangan dan menghadiahkan kepadanya sebidang tanah di Asia
Kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu, mereka mulai mengembangkan
daerah itu. Pada tahun 1300 M, Bangsa Mongol menyerang Kerajaan Seljuk dan
Sultan Alauddin Kaikobad terbunuh. Lalu kerajaan ini terpecah-belah , kemudian
Usman menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya.
Sejak itulah Kerajaan Turki Usmani dinyatakan berdiri.
Tentang pemimpin pasukan turki
usmani • Ertogul : Pimpinan bangsa Turki dari kabilah Ogus yang mengabdikan
diri pada Sultan Seljuk yang bernama Sultan Alauddin Kaikobad (meninggal pada
tahun 1289 M). • Usman (1290 M- 1326 M): Pendiri Kerajaan Turki Usmani, karena
beliaulah yang menyatakan kemerdekaan kerajaan dan berkuasa penuh atas daerah
yang didudukinya. Selama pemerintahannya, Usman berhasil menduduki
benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan kota Broissa, Turki. Ia
menyerang daerah perbatasan Bizantium dan Kota Broissa(1326 M dijadikan Ibu
Kota kerajaan) pada tahun 1317 M. • Orkhan (1326 M-1359 M): Kerajaan Turki
Usmani menaklukan Izmir(smirna)tahun 1372 M, Tawasyanli (1330 M), Iskanderun
(1338 M), Ankara (1354 M), dan Gallipoli (1356 M). • Murad I (1359 M-1389 M):
Melaksanakan ekspansi sampai ke benua eropa, yaitu: Adrianopel, Macedonia,
Sofia, Salonika, dan seluruh wilayah utara Yunani. • Sultan Bayazid I (1389 M-
1402 M): beliau berhasil menghancurkan pasukan Paus yang khawatir akan ekspansi
yang dilakukan oleh Murad I, pasukan Paus dipimpin oleh Sijisman, raja
Hongaria.
Namun pada tahun 1402 M, tentara
Mongol berhasil mengalahkan pasukan Turki Usmani dan Sultan Bayazid I tertawan
hingga akhirnya wafat pada tahun 1403 M yang menyebabkan berhentinya ekspansi
Kerajaan Turki Usmani. • Murad II (1421 M- 1451 M): penerus usaha muhammad
dalam mengadakan perbaikan-perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam
negeri saat Mongol terpecah belah pasca wafatnya Timur Lenk (pemimpin pasukan
tentara Mongol) pada tahun 1405 M. Pada masa ini, Kerajaan Turki Usmani
mengalamin masa kejayaan pada masa Muhammad II yang bergelar Muhammad Al-Fatih.
• Muhammad Al-Fatih (1451 M- 1481 M): Pada masanya, KTU mengalami puncak
kejayaan dan berhasil menguasai Konstantinnopel pada tahun 1453 M. • Sultan
Salim I (1512 M- 1520 M): berhasil menduduki Persia, Suriah, & Mesir.
Sultan Sulaiman al-Qanuni (1520 M- 1566M):
berhasil menduduki wilayah Irak, Belgrade, Pulau Rodes, Tunis, dan Yaman di
Asia; Mesir, Libia, Tunisia, Aljazair di Afrika; Bulgaria, Yunani, Albani,
Yugoslavia, Hongaria, dan Rumania di Eropa Karena kemajuan dan perkembangan
ekspansi negara ini yang demikian luas dan berlangsung dengan cepat itu diikuti
pula dengan kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan, antara lain :
Militer, Pemerintahan, Ilmu Pengetahuan, Budaya, & Agama.
a. Bidang militer Untuk pertama
kalinya kekuatan militer negara ini mulai diorganisasi dengan baik adalah
ketika terjadi kontak senjata dengan Eropa. Ketika itu, pasukan tempur Kerajaan
Turki Usmani sudah terorganisasi. Pengorganisasian yang baik, taktik, dan
strategi tempur militer KTU berlangsung tanpa halangan berarti. Namun, tidak
lama setelah kemenangan tercapai, kekuatan militer ini melemah, kesadarn
prajuritnya menurun, dan mereka merasa seperti pejabat-pejabat yang berhak menerima
gaji. Akan tetapi, keadaan itu dapat diatasi oleh Orkhan dengan jalan
mengadakan perombakan besar-besaran dalam tubuh militer. Pembaruan yang
dilakukan Orkhan tidak hanya memindahkan pimpinan2 militer, tetapi juga
merombak prajurit2nya dalam keanggotaan. Bangsa2 non-Turki dimasukkan ke dalam
anggota. Bahkan anak2 Kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam
suasana Islam untuk dijadikan prajurit.
Program ini berhasil membentuk
pasukan baru yang disebut pasukan Jenissari atau Inkisyariah. Pasukan inilah
yang membuat KTU memiliki mesin perang yang sangat kuat dan memberikan dorongan
yang sangat besar dalam penaklukan negeri2 nonmuslim. Di samping Jenissari, ada
lagi prajurit dari tentara kaum feodal yang dikirim kepada pemerintah pusat.
Pasukan ini disebut tentara militer Taujiah. Angkatan Laut juga dibenahi karena
memiliki peranan yang besar dalam ekspansi KTU. Kekuatan yang tangguh itu
membuat KTU dengan cepat mampu menguasai wilayah yang sangat luas, baik di
Asia, Afrika, maupun Eropa. Faktor utama yang mendorong kemajuan di lapangan
kemiliteran ini ialah tabiat bangsa turki itu sendiri yang bersifat militer,
disiplin, dan patuh terhadap peraturan. Tabiat ini merupakan tabiat alami yang
diwariskan oleh nenek moyang mereka di Asia Tengah. •
b. Bidang pemerintahan Keberhasilan ekspansi
KTU dibarengi pula dengan terciptanya jaringan pemerintahan yang teratur. Dalam
mengelola wilayah yang luas, sultan2 Turki Usmani senantiasa bertindak tegas.
Dalam struktur pemerintahan, sultan merupakan penguasa tertinggi. Ia dibantu
oleh sadr al-’azam (Perdana Menteri ) yang membawahi pasya (gubernur). Gebernur
mengepalai daerah tingkat I. Di bawahnya terdapat beberapa orang
az-zanaziq(bupati). Untuk mengatur urusan pemerintahan negara, Sultan Sulaiman
I menyusun sebuah kitab Undang2. Kitab tersebut diberi nama Multaqa al-Abhur
yang menjadi dasar hukum di KTU hingga datangnya reformasi pada abad ke 19.
berkat jasanya tersebut, Sultan Sulaiman I mendapat gelar Al-Qanuni.
c. Bidang budaya Kebudayaan wilayah
Turki Usmani merupakan perpaduan berbagai macam kebudayaan, di antaranya
kebudayaan Persia, Bizantium, dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak
mempelajari budaya-budaya tentang etika dan tata krama dalam istana raja-raja.
Organisasi pemerintahan dan kemiliteran banyak mereka serap dari Bizantium.
Ajaran prinsip ekonomi, sosial, kemasyarakatan, keilmuan, dan huruf, mereka
terima dari Arab. Orang Turki Usmani memang dikenal sebagai bangsa yang suka
dan mudah berasimilasi dengan bangsa asing dan terbuka untuk menerima
kebudayaan. Bagaimana pun, sebelumnya mereka adalah orang nomad yang hidup di
wilayah asia tengah.
d. Bidang ilmu pengetahuan Sebagai
bangsa yang berdarah militer, KTU lebih banyak memfokuskan kegiatan mereka
dalam bidang kemiliteran. Dalam bidang ilmu pengetahuan mereka tidak begitu
menonjol. Oleh karena itu, dalam khazanah intelektual Islam, kita tidak
menemukan ilmuan terkemuka dari KTU. Meskipun demikian, mereka banyak berkiprah
dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan2 masjid yang indah,
seperti masji Al- Muhammadi atau Masjid Jami’ Sultan Muhammad al-Fatih, Masjid
Agung Sulaiman, dan Masjid Abu Ayub al-ansari. Masjid2 tersebut dihiasi dengan
kaligrafi yang indah. Salah satu masjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya
adalah masjid yang berasal dari gereja bernama Aya Sofia. Hiasan kaligrafi itu
menjadi penutup gambar2 Kristiani yang ada sebelumnya. Sulaiman al-Qanuni juga
membangun masjid, sekolah, rumah sakit, gedung, makam, jembatan, saluran air,
vila, dan pemandian umum di berbagai kota. Menurut sebuah sumber, 235 buah
bangunan itu dibangun di bawah koordinasi Sinan, seorang arsitek dari Anatolia.
e. Bidang agama Dalam
tradisimasyarakat Turki, agama mempunyai peranan besar di bidang sosial dan
politik. Masyarakat digolong-golongkan berdasarkan agama. Kerajaan sendiri
sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku.
Oleh karena itu, ulama memiliki tempat tersendiri serta berperan besar dalam
pemerintahan dan kehidupan masyarakat. Mufti, sebagai pejabat urusan agama
tertinggi, berwenang memberi fatwa resmi atas segala permasalahan yang dihadapi
masyarakat. Tanpa legitimasi Mufti, keputusan hukum kerajaan tidak dapat
berjalan. Di pihak lain, kajian ilmu keagamaan, seperti fikih, ilmu kalam,
tafsir, dan hadis tidak mengalami perkembangan yang berarti. Para penguasa
cenderung menegakkan satu faham(mazhab) keagamaan dan menekan mazhab lainnya.
Sultan Abdul Hamid II misalnya, ia begitu fanatik terhadap aliran Asy’ariyah. •
Nama-nama sultan kerajaan turki usmani • Usman I (1300 - 1323 M) • Orkhan I
(1323 - 1360 M) • Murad I (1360 - 1389 M) • Bayazid I (1389 -1402 M) • Muhammad
I (1402 – 1421 M) • Murad II (1421 – 1444 M) • Muhammad II (1444 – 1446 M) •
Murad III (1446 – 1451 M) • Muhammad III (1451 – 1481 M) • Bayazid II (1481 –
1512 M) • Salim I (1512 – 1520 M) • Sulaiman I (1520 – 1566 M) • Salim II (1566
– 1574 M) • Murad IV (1574 – 1595 M) • Muhammad IV (1595 – 1603 M) • Ahmad I
(1603 – 1617 M) • Mustafa I (1617 – 1618 M) • Usman II (1618 – 1622 M) •
Mustafa II (1622 – 1623 M) • Murad V (1623 – 1640 M) • Ibrahim (1640 – 1648 M)
• Muhammad V (1648 – 1687 M) • Sulaiman II (1687 – 1691 M) • Ahmad II (1691 –
1695 M) • Mustafa II (1695 – 1703 M) • Ahmad III (1703 – 1730 M) • Mahmud I
(1730 – 1754 M) • Usman III (1754 – 1757 M) • Mustafa III (1757 – 1774 M) •
Abdul Hamid I (1774 – 1789 M) • Salim III (1789 – 1807 M) • Mustafa IV (1807 –
1808 M) • Mahmud II (1808 – 1839 M) • Abdul Majid (1839 – 1861 M) • Abdul Aziz
(1861 – 1876 M) • Murad VI (1876 M) • Abdul Hamid II (1876 – 1909 M) • Muhammad
VI (1909 – 1918 M) • Muhammad VII (1918 – 1922 M) •
BAB
1V
RUNTUHNYA
KERAJAAN TURKI UTSMANI
Sebab-sebab
secara teknis kita serahkan kepada para ahli sejarah, terutama sejarah Turki
sendiri. Sedangkan yang akan kita bahas di sini adalah sebab-sebab secara
umumnya saja.
A.
Sebab Ekternal
Sudah kita ketahui bersama bahwa Khilafah
Turki Utsmani kalah pada perang dunia pertama. Sebagai negara yang kalah
perang, maka negeri itu dengan mudah ditindas, dirampok dan juga diperebutkan
wilyahnya oleh para pemangsa dan lawan-lawannya.
Sampai
terjadi penghinaan yang begitu besar, di mana bangsa Turki yang secara
geografis memang penduduk Eropa dilecehkan dengan ungkapan “The Sickman in
Europe.” Bahkan kata “turkey” dalam ungkapan mereka merupakan pelecehan, yang
artinya ayam kalkun.
Pahlawan
dan tokoh muslim Turki pu tidak luput dari penghinaan. Salah satunya adalah
Barbarossa si Janggut Merah. Di dalam cerita Asterik, tokoh Barbarosssa muncul
sebagai bajak laut yang bodoh. Padahal beliau adalah pahlawan Islam di masanya
dan pelaut kafir Eropa sangat takut dengan angkatan perangnya.
B.
Sebab Internal
Penjajahan
barat terhadap Turki semakin menusuk tatkala mereka berhasil meraih generasi
muda Turki dengan pendidikan ala barat. Tentu saja semua itu untuk mendapatkan
satu tujuan, yaitu sekulerisasi selapis generasi. Maka lahirlah kemudian
generasi baru yang anti Islam, Islamo-phobia, sekuler, liberal dan berotak
barat.
Mereka
inilah yang kemudian didukung oleh Eropa untuk menumbangkan lembaga khilafah
Islamiyah. Tercatat tokohnya adalah Mustafa Kemal Ataturk yang terlaknat. Sosok
ini telah berhasil menumbangkan kPadahal Kemal telah melakukan dosa yang bahkan
Iblis pun tidak pernah melakukannya. Yaitu menumbangkan satu rangkaian khilafah
Islamiyah yang terakhir. Padahal belum pernah sebelumnya umat Islam di dunia
hidup tanpa naungan khilafah.
Sebab
khilafah sudah ada sejak zaman Rasululullah SAW hidup, yakni sejak 15 abad yang
lalu. Selama itu, umat Islam belum pernah hidup tanpa ada khilafah. Iblis dan
para jin tidak pernah mampu menumbangkannya. Tiba-tiba seorang sekuleris yang
nota bene agamanya masih Islam, malah menumbangkannya. Walhasil, sejak jatuhnya
khilafah Turki, umat Islam masuk dalam bid’ah kubro. Sebuah bid’ah teramat
besar yang melebihi semua jenis bid’ah yang pernah ada. Dan tentunya sangat
dibenci dan dimurkai. Sebuah bid’ah berupa umat Islam hidup tanpa naungan
khilafah.hilafah pada tahun 1924 lewat gerakan Turki Muda.
BAB
V
MUNCULNYA
GERAKAN GERAKAN BARU
Gerakan Islam Transnasional Dan Pengaruhnya Di
Indonesia
Wajah gerakan Islam Transnasional
- Bersifat transnasional
- Ideologi gerakan tidak lagi bertumpu pada konsep nation-state, melainkan konsep umat
- Didominasi oleh corak pemikiran skripturalis fundamentalisme atau radikal
- Secara parsial mengadaptasi gagasan dan instrumen modern
Gerakan Islam yang bersifat transnasional
- Ikhwanul Muslimun
- Hizbut Tahrir
- Jihad
- Salafi Dakwah dan Salafi Sururi
- Jamaah Tabligh (Gerakan Dakwah)
- Syiah
1. IKHWANUL MUSLIMUN
Penyebarannya
IM kurang lebih di 70 negara, mulai dari Eropa, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia
Tenggara hingga Amerika Serikat dan Kanada. Hingga kini pusat jaringan IM di
Mesir. Sifat jaringan sangat fleksibel dan setengah tertutup. Nama gerakan
berbeda-beda di tiap negara. Meskipun demikian, semua disatukan oleh pemikiran
dan metodologi Ikhwan. Kekuatan utama gerakan ini adalah pembentukan
kelompok-kelompok pengajian (halaqoh)
Secara
umum, gerakan Ikhwan sekarang ini terbelah dalam dua arus besar.
- Ikhwan Tarbiyah
- Ikhwan Jihad
2. IKHWANUL MUSLIMIN TARBIYAH
Ikhwan versi tarbiyah merupakan
ikhwan versi resmi. Secara internasional dikendalikan oleh Mursyid Am ketujuh
yaitu Muhammad Mahdi Akif. Ikhwan versi tarbiyah tidak terlalu radikal.
Tujuan utamanya tetap, yaitu
membentuk “daulah Islamiyah”. Namun, cara yang ditempuh bersifat non kekerasan.
Mereka dapat memanfaatkan instrumen demokrasi untuk mewujudkan cita-cita
tersebut.
Kemenangan partai Ikhwan di
Aljazair, FIS, menjadi momentum penting bahwa jalur tarbiyah, moderat dan
parlementarian, dapat menemukan efektivitasnya.
Model tarbiyah kemudian diterima
secara luas di beberapa negara, termasuk Indonesia. Model ini sekarang menjadi
katup penyelamat penting, tatkala Ikhwan Jihadi sedang terpukul di beberapa
negara
3. JIHADI: (IKHWANI DAN SALAFY)
- Mewabahnya gerakan jihad dipicu oleh perang Afganistan
- Bahan baku utama gerakan ini terutama berasal dari gerakan Ikhwan sayap radikal dan Salafy sayap radikal
- Pemikir besarnya adalah Abdullah Azzam, Aiman Zawahiri, dan Syekh Abu Muhammad Al Maqdisy. Sedang operator utamanya adalah Usamah bin Laden (berbeda dalam nama dan bahasa, namun bersatu dalam bentuk dan tujuan- muhtalifah al asma’ wal al lughat muttahidah al asykal wa al aghrad)
- Pertemuan antara pengikut ikhwan sayap radikal dan salafy radikal inilah yang menjadi tiang utama gerakan jihad.
- Pengikut gerakan ini sebagian besar adalah alumni Afgan, Moro dan Chehnya.
- Bahan baku gerakan jihad di Indonesia terutama berasal dari aktivis Darul Islam (DI) Faksi Abdullah Sungkar.
- Dalam konteks rekrutmen dan pematangan jamaah jihad, Abdullah Sungkar dan Baasyir merupakan tokoh kunci
- Basis pendukung gerakan jihad umumnya masih didominasi pengikut DI, khususnya jaringan pesantren Ngruki serta alumni Afgan dan Moro
4. HIZBUT TAHRIR
- Perbedaannya dengan ikhwan adalah penolakannya terhadap konsep demokrasi dan tekanannya terhadap paham kekhalifahan.
- Metode perjuangan: tiga tahap (kaderisasi, sosialisasi, dan merebut kekuasaan).
- Agenda utamanya adalah mewujudkan proyek kekhalifahan dunia
- Pusat jaringan kemungkinan berada di The West Bank dan kini dikendalikan oleh Abu Rashta.
- Wilayah pengembangan utama HT adalah negara-negara Asia Tengah, seperti Uzbekistan, Tajikistan dan Kazahtan. HT juga kuat di Asia Selatan, terutama Bangladesh dan Pakistan.
- Gerakan Hizbut Tahrir di Indonesia berawal dari para aktivis masjid kampus Masjid Al-Ghifari, IPB Bogor. Dibentuk kemudian halaqah-halaqah (pengajian-pengajia kecil) untuk mengeksplorasi gagasan-gagasan HT.
- Sebuah konferensi Internasional soal Khilafah Islamiyah digelar di Istora Senayan pada 2002. Konferensi juga menandai lahirnya organisasi Hizbut Tahrir di Indonesia. Organisasi ini langsung memproklamirkan diri sebagai partai politik yang berideologi Islam, namun menolak bergabung dengan sistem politik yang ada.
- Penolakan ini merupakan bentuk baku dari HT Internasional.
- Pimpinan HTI sekarang adalah Hafidz Abdurrahman.
- Dalam pengembangannya, sasaran dakwah HT adalah masjid-masjid jami di kabupaten.
5. SALAFI DAKWAH
- Gerakan Salafi Dakwah merupakan bagian dari paham Wahabi.
- Gerakan ini untuk membendung pengaruh Ikhwanul Muslimin, Syi’ah, Hizbut Tahrir, Jama’ah Tabligh dan aliran lainnya.
- Gerakan ini berkembang secara internasional melalui jaringan guru-murid ulama-ulama Wahabi dan dukungan dana pemerintah Saudi Arab.
- Tokoh sentral gerakan ini adalah Bin Baz, Al-Bani, dan Syekh Muqbil.
- Pendekatan: tekstual, kemurnian aqidah, dan apolitik
6. SALAFI DAKWAH DAN SALAFI SURURI
- Gerakan salafi baru muncul di Indonesia pada awal dekade 1980-an.
- Alumni LIPIA angkatan pertama, kini menjadi tokoh terkemuka di kalangan salafi.
- Generasi pertama LIPIA tersebut sangat anti terhadap kelompok Ikhwanul Muslimin, Hizbut tahrir, Jamaah Tabligh dan Darul Islam.
- Di Indonesia sendiri, banyak sekali kalangan salafi termasuk sururiyah atau yang mempunyai pandangan yang berbeda dengan kalangan salafi puritan
- Oleh karena modus pengembangan berbasis pesantren, maka gerakan salafy di Indonesia umumnya bertabrakan langsung dengan konstituen NU. Hal ini sudah terjadi di NTB di mana sejumlah konflik terbuka sudah berlangsung.
- Meskipun secara teoritis dapat seiring dengan Persis, namun dalam kenyataannya Salafy cenderung mengambil jarak dengan Persis.
- Salafy juga mengambil sikap konfrontatif dengan Ikhwan, Syiah maupun Jamaah Tablig.
7. GERAKAN SYI’AH
Jaringan
Syiah internasional sekarang ini terbagi dalam dua wilayah.
- Pertama, wilayah utama yaitu daerah bekas wilayah imperium Persia. Dalam wilayah utama, pengembangan Syiah dilakukan dengan pendekatan politik dan kultural.
- Wilayah kedua adalah wilayah pinggiran dimana areanya meliputi negara-negara di luar wilayah imperium Persia. Dalam wilayah ini, pendekatan kultural lebih diutamakan.
Secara kultural,
Syi’ah telah masuk ke Indonesia bersamaan dengan kedatangan Islam ke Nusantara
melalui jalur perdagangan dan dakwah dalam bentuknya yang taqiyah.
Setelah terjadi
Revolusi Islam Iran (1979), pada awal gerakannya bersifat intelektual, namun
sejak kehadiran alumnus Qum gerakan Syi’ah mulai mengembangkan Fiqh Syi’ah,
sehingga muncullah lembaga-lembaga Syi’ah.
Syi’ah di Indonesia ada dua corak:
·
Syi’ah
Politik, untuk membentuk Negara Islam (para pengikut ide-ide politik dan
intelektual Syi’ah)
·
Syi’ah
non politik, untuk membentuk masyarakat Syi’ah (para pengikut fiqhiyah syi’ah)
Syiah mengalami perselisihan, namun tidak mengarah
kepada perpecahan, karena saling melengkapi:
Kubu pertama adalah LKAB (Lembaga komunikasi
Ahlul Bait) yang merupakan wadah para alumni al Qum. Kubu ini dimotori oleh ICC
Jakarta yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah Republik Islam Iran
(RII). LKAB membawai Yayasan Al Munthazar, Fathimah Aqilah, Ar Radiyah,
Mulla Sadra, An Naqi, Al Kubra, Al Washilah, MT Ar Riyahi dan gerakan dakwah Al
Husainy. LKAB berkantor di Jl Bintaro KODAM Grand Bintaro Jaksel.
Kubu kedua dipegang oleh IJABI.
Dalam kubu ini metode taqiyah kurang disenangi. Sebaliknya, IJABI tampak lebih
pluralis. Hal ini terlihat dari beberapa tokoh Sunni yang menjadi
pengikut IJABI. Kiblat IJABI, bukanlah ke Iran, melainkan Marja
Lebanon di bawah pimpinan Ayatollah Sayyed Mohammad Hussein Fadlallah. Tokoh
utama di Indonesia adalah Dr Jalaluddin Rahmat.
Para pengikut Syi’ah keturunan Arab melakukan gerakan dengan
bertaqiyah (sikap menyembunyikan diri), tidak mau berterus terang mengakui
sebagai pengikut syi’ah, secara dhahir mereka tampil sebagai orang syafi’i,
seperti Habib Ali Baagil (otak pengeboman Gedung BEJ), Habib Husein Al Habsyi
(Presiden Ikhwanul Muslimin Indonesia), Abdullah As Segaf (Ikatan persatuan
Ahlul Bait Indonesia), Habib Saleh Al Idrus (majelis Dzikir Nurkhaerat
Poso-tokoh perlawanan Poso) dll.
Jaringan Syiah di Jawa Timur berpusat di Ponpes YAPI Bangil
pimpinan Ustad Husen Al Habsyi, sedangkan jaringan Syi’ah di Jawa tengah
berpusat di Ponpes Al Hadi Pekalongan pimpinan Ahmad Baraqbah dan Toha Musawa.
Di Yogyakarta bepusat di Yayasan Roushan Fikr yang dipimpin oleh Sofwan (kader
Syiah radikal).
LANGKAH UTAMA SYI’AH INDONESIA
SAAT INI:
·
Mengkonsolidasikan
semua yayasan Syi’ah dan meminimalisir perbedaan
·
Berupaya
keberadaanya diterima oleh kalangan muslim Indonesia dengan melakukan
kegiatan-kegiatan sosial.
·
Berupaya
mendirikan Marja al Taqlid sebuah institusi agama yang sangat terpusat,
diisi oleh ulama-ulama syi’ah terkemuka dan memiliki otoritas penuh untuk
pembentukan pemerintah dan konstitusi Islam
8. JAMAAH TABLIGH (GERAKAN DAKWAH)
·
Apolitik
·
Gabungan
antara wahabisme dan suffisme.
·
Menjadi
bahan baku bagi gerakan sunni radikal (Harakatul Mujahidin)
Jamaah Tabligh di Indonesia mempunyai anggota yang cukup
banyak. Anggota Jamaah Tabligh di Indonesia sangat bervariasi, mulai dari artis
seperti Gito Rollies sampai dengan tentara, kalangan profesional dll.
Sasaran utama pengembangan Jamaah Tablig
umumnya kalangan perkotaan terutama yang tidak menyukai
aktivitas politik dan ada minat terhadap sufisme. Sebanyak 20.000
anggota jamaah tabligh siap khuruj ke berbagai pelosok di Indonesia.
BAB
VI
SOLUSI
UNTUK MENYATUKAN UMAT ISLAM
Dengan
munculnya gerakan – gerakan atau harokah – harokah seperti : ihwanil muslimin,
hisbuttahlil Indonesia, Jamaah Tabliqh, salafi. Ini adalah salah satu gerakan –
gerakan yang kontemporer ataupun yang paling banyak pengikutnya di seluruh
dunia, yang tidak lain mereka mempunyai tujuan yang sama tetapi cara
penyampaian atau cara berdakwah mengajak untuk kebaikan barbeda –beda, yang
tidak lain tujuan mereka adalah untuk kejayaan Islam.
Adapun
solusi kita untuk menyatukan umat Islam.
1. Salah satu dari gerakan atau harokah
– harokah tersebut masuk dan menguasai parlementer negara meliputi MPR, DPR, ataupun presiden.
2. saling mempunyai sikap menghargai,
toleransi, tidak saling menyela bahwa semua gerakannya adalah benar.
3. membentuk forkom (forum komunikasi)
tiap harokah atau gerakan.
BAB
VII
PENUTUP
KESIMPULAN
DAN SARAN
A.
KESIMPULAN
Pendidikan
islam yang dimulai dari masa Nabi Muhammad SAW. Khulafur Rasyidin, serta Masa
Muawiyyah dan Abbasiyah serta kekhalifahan selanjtnya, yang pada puncak
kemjuan ilmu dan kebudayaan Islam adalah terjadi pada masa Daulah bani
Abbasiyah.
Perkembangan
kemajuan pendidikan Islam ada dua factor yang saling mempengaruhi, yaitu factor
intern atau pembawaan dari ajaran agama Islam itu sendiri dan factor eksteren ,
yaitu berupa rangsangan dan tantangan dari luar.
Faktor
dari dalam yang berupa pembawaan dari ajaran agama Islam itu sendiri, dan
ekstern seperti; Fuilsafat Yunani yang mulai berpengaruh dikalangan ilmuan
muslim pada masa pemerintahan Bani Umayyah dan mencapai puncaknya pada masa
Bani Abbasiyah, ketika karya-karya filosof Yunani diterjemahkan kedalam bahasa
Syirah oleh Hunayn dan anaknya menerjemahkan dari bahasa Syirah ke bahasa Arab.
Metode-metode berpikir yang digunakan oleh filosof Yunani memberikan motivasi
bagi ilmuwan muslim untuk lebih banyak berkarya dalam kemajuan pendidikan Islam
sehingga mucul ilmuwan seperti Jabir ibn Hayyan, Al-Khindi, Al-razi,
Al-Khawarizmi, Al-Farabi, Ibnu Ummar Khayyan, Ibnu Rusyid dan sebagainya
Puncak perkembangan dan kebudayaan pemekiran Islam terjadi pada masa pemerinthan Bani Abbas. Akan tetapi, tidak berarti seluruhnya berawal dari kreatifitas penguasa Bani Abbas sendiri. Sebagian di antaranya sudah simulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan, misalnya diawal Islam, lembaga pendidikan sedah mulai berkembang. Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas, dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena disamping terdapat kitab-kitab, disana juga orang dapat membaca , menulis, memahami dan berdiskusi.
Puncak perkembangan dan kebudayaan pemekiran Islam terjadi pada masa pemerinthan Bani Abbas. Akan tetapi, tidak berarti seluruhnya berawal dari kreatifitas penguasa Bani Abbas sendiri. Sebagian di antaranya sudah simulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan, misalnya diawal Islam, lembaga pendidikan sedah mulai berkembang. Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas, dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena disamping terdapat kitab-kitab, disana juga orang dapat membaca , menulis, memahami dan berdiskusi.
Demikianlah
pendidikan islam pada masa kemajuan Islam, kemajuan yang tidak ada tandingannya
di kala itu. Pada masa ini kemajuan politik serjalan seiring dengan kemajuan
pendidikan, peradaban, dan kebudayaan. Sehingga Islam mencapai masa keemasan,
kejayaan dan kegemilanan. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada
masa kekuasaan Bani Abbas periode pertama.
- Gerakan Islam transnasional masih akan terus berkembang luas di masyarakat Indonesia.
- Akan menggerogoti basis-basis gerakan Islam lokal. Basis Muhammadiyah di perkotaan umpamanya, sekarang ini sedang digerogoti oleh jamaah Ikhwan dan HT. Jamaah tabligh mengerogoti beberapa konstituen penting NU di perkotaan. Sedangkan gerakan salafi, berusaha mengambil jamaah NU puritan dengan pendekatan pesantren. Adapun Jamaah Tabligh sedang mengincar komunias-komuntas sufi.
- Untuk sementara ini, konflik besar antara gerakan Islam lokal dan gerakan Islam Transnasional memang belum terjadi. Namun, letupan-letupan kecil sudah terjadi, seperti kasus di NTB.
- Sesama jaringan internasional di Indonesia ternyata terlibat ketegangan yang kuat. Jamaah Ikhwan umpamanya, tidak pernah bertemu dengan HT. Sedangkan Salafi sangat getol mengecam gerakan Ikhwan, HT, maupun Jamah Tablig.
- Meskipun terjadi persaingan yang serius, semua gerakan transnasional tersebut ternyata bertemu dalam agenda terwujudnya pemerintahan Islam. Kecuali Salafi Dakwah dan Jamaah Tablig yang, untuk sementara, bersifat apolitik.
- Apabila melihat kecenderungannya, maka jamaah Ikhwan, HT dan Syiah tampaknya paling berpotensi untuk terus membesar. Ketiga jaringan ini untuk masa yang akan datang menjadi saingan serius gerakan Islam lokal.
- Gerakan Islam lokal (Sunni moderat) tampaknya paling ketinggalan dalam kompetisi global ini. Hal ini karena, gerakan Islam lokal semata-mata berbasis nation-state dan tidak mempunyai jaringan internasional yang kuat.
B.
SARAN
Majunya pendidikan islam pada saat
tu merupakan upaya-upya yang dilakukan para cendikiawan muslim untuk memajukan
umat Islam tentunya, yang saat ini masih dapat dirasakan keberadaannya.
Untuk itu sebagai seorang peljar hendaknya mampu menggali potensi-potensi yang
telah dimiliki, dengan mempelajari ilmu-ulmi pengetahuan yang berguna tentunya,
untuk mencapai ridha illahi dan mampu untuk memajukan pendidikan Islam
sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendahulu-pendahulu kita.
Pengetahuan yang telah dikembangkan sebagai hasil perkembangan pemikiran dan
ilmiah dikalangan kaum muslimin pada masa jayanya, harus mampu untuk dipelajari
sebagai bekal kita untuk mengembangkan serta memajukan pendidikan Islam. Semoga
apa yang telah dilakukan cendikiawan-cendikiawan muslim terdahulu seagai upaya
yang telah dilakukan untuk memajukan pendidikan Islam dapat menjadi motivasi
bagi para pelajar untuk lebih giat belajar dan mampu meningkatkan prestasinya,
bagi pendidikan Islam.