Selasa, 03 April 2012

Makalah Agama tentang munculnya gerakan islam di dunia


BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga dan sahabatnya.
Ya Allah, limpahkanlah taufiq-Mu kepada kami dan kepada setiap orang yang mencintai dan mengamalkan sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam.
Ya Allah, sucikanlah hati kami dan hati saudara-saudara kami umat Islam dari berbagai noda yang mengotorinya dan bukakanlah hati kami untuk menerima kebenaran dari siapa pun datangnya.
Kejayaan umat Islam adalah impian dan dambaan setiap muslim. Penerapan syari’at Allah Ta’ala di muka bumi adalah idaman dan cita-cita setiap orang yang beriman. Terwujudnya keadilan dengan sepenuh makna dan dalam segala aspek kehidupan umat manusia adalah tujuan perjuangan setiap orang yang beriman kepada hari akhir.
Untuk merealisasikan cita-cita luhur nan suci ini, syari’at Islam hanya mengajarkan satu cara, yaitu mewujudkan keimanan yang benar dan amal yang shaleh selaras dengan syari’at Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.” (QS. An Nur: 55)
Sebagaimana Allah Ta’ala telah mengajarkan metode jitu untuk merealisasikan kejayaan kita umat Islam, Allah Ta’ala juga memperingatkan kita dari petaka besar yang akan meruntuhkan kejayaan dan segala kenikmatan yang ada pada mereka.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu saling berselisih, sehingga kamu menemui kegagalan dan hilanglah kekuatanmu.” (QS. Al Anfal: 46)
Amatilah, pada ayat ini Allah Ta’ala menjadikan ketaatan kepada syari’at Allah dan Rasul-Nya sebagi lawan dari perselisihan, dan perselisihan/perpecahan adalah sumber/biang kerok bagi kelemahan serta hilangnya kekuatan dan kekuasaan umat Islam.

Dan bila kita mengurutkan kronologi kejadian di atas dengan terbalik, maka akan menjadi seperti berikut: Berbagai kelemahan dan hilangnya kekuatan dan kekuasaan umat Islam diakibatkan oleh adanya perselisihan dan perpecahan antara mereka. Dan perselisihan/perpecahan adalah akibat langsung dari ketidaktaatan umat Islam terhadap syari’at Allah dan Rasul-Nya.
Dan sudah barang tentu, dan kita semua menyadari bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya hanya akan dapat direalisasikan, bila kita benar-benar mengamalkan Al-Qur’an dan As Sunnah, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, sahabatnya dan ulama’ terdahulu (salafus sholeh).

Wasiat dari Allah ini juga ditegaskan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau berikut:
 “Janganlah kamu saling berselisih, karena umat sebelummu telah berselisih, sehingga mereka binasa/runtuh.” (HSR Muslim)
Inilah sumber permasalahan, dan inilah sumber kelemahan yang harus segera dibenahi dan diperangi, yaitu adanya berbagai penyelewengan dari ajaran Al-Qur’an dan As Sunnah. Inilah sebab terjadinya kemunduran sekaligus kekalahan umat Islam dari selain mereka dalam berbagai aspek kehidupan.
Umat Islam mundur dan kalah bukanlah karena kekurangan pengikut, atau kalah dalam hal teknologi atau persenjataan. Akan tetapi sebab utamanya ialah apa yang telah saya jabarkan di atas, yaitu umat islam pada zaman ini telah terpecah-pecah pemahaman dan keimanannya, dan mereka berusaha mencari kemuliaan dari selain jalan Allah dan Rasul-Nya, dan mencampakkan jauh-jauh syari’at yang telah diajarkan dalam Al-Qur’an dan As Sunnah, sehingga keadaan mereka itu seperti digambarkan dalam pepatah arab:
Kau dambakan keselamatan, tapi engkau tak menempuh jalurnya
Sungguh bahtera tak kan pernah berlayar di daratan
Oleh karena itu berbagai upaya mereka hanyalah menambah berat petaka yang melanda umat, dan bukan menguranginya.
Banyak dari tokoh umat Islam menyeru dan menggalang kekuatan umat Islam untuk mewujudkan kembali kejayaannya, dengan berbagai metode yang mereka yakini; ada yang menempuh jalur parlemen untuk dapat mencapai pada kekuasaan, dan ada pula yang menempuh jalur kekerasan, dan ada yang menempuh jalur-jalur lainnya. Akan tetapi betapa sedikitnya tokoh umat Islam yang tetap istiqomah meniti jalur dan metode yang pernah diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jalur pembinaan masyarakat dengan ilmu yang shahih dan amal yang shaleh, tanpa dinodai oleh syubhat, kesyirikan dan bid’ah.
Kisah berikut adalah bukti nyata dan penjabaran gamblang tentang metode yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam mewujudkan kejayaan umat islam:
Tatkala pasukan orang-orang Quraisy telah menghadang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam beserta kaum muslimin, dan kemudian terjadi negoisasi antara kedua belah pihak, diantara tawaran yang ditawarkan oleh orang-orang Quraisy kepada beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam ialah tawaran yang disampaikan oleh ‘Utbah bin Rabi’ah:
“Wahai keponakanku, bila yang engkau hendaki dari apa yang engkau lakukan ini adalah karena ingin harta benda, maka akan kami kumpulkan untukmu seluruh harta orang-orang Quraisy, sehingga engkau menjadi orang paling kaya dari kami, dan bila yang engkau kehendaki ialah kedudukan, maka akan kami jadikan engkau sebagai pemimpin kami, hingga kami tidak akan pernah memutuskan suatu hal melainkan atas perintahmu, dan bila engkau menghendaki menjadi raja, maka akan kami jadikan engkau sebagai raja kami, dan bila yang menimpamu adalah penyakit (kesurupan jin) dan engkau tidak mampu untuk mengusirnya, maka akan kami carikan seorang dukun, dan akan kami gunakan seluruh harta kami untuk membiayainya hingga engkau sembuh”.
Mendengar tawaran yang demikian ini, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak lantas menerima salah satu tawarannya yang berupa tawaran menjadi raja/pemimpin –sebagaimana yang diteorikan oleh banyak harokah islamiyyah zaman sekarang- agar dapat memimpin dan kemudian baru akan mengadakan perubahan undang-undang dst. Nabi tetap meneruskan perjuangannya membentuk tatanan masyarakat muslim yang beraqidahkan aqidah islam/tauhid dan berakhlakkan dengan akhlaq islamiyyah. Oleh karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab tawaran orang ini dengan membacakan surat Fushshilat (artinya):
“Haa Miim. Diturunkan dari (Rabb) Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)”. Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya”. Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya (Yang bersifat) demikian itulah Rabb semesta alam”. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati” Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya.Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. ika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan kaum Tsamud”. (QS. Fusshilat: 1-13)
Setelah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam sampai pada ayat ke 13 ini, Utbah bin Rabi’ah berkata kepada beliau:
“Cukup sampai disini, apakah engkau memiliki sesuatu (misi/tujuan) selain ini? Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Tidak.” [Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la, Ibnu Hisyam 2/131, Dan Dalail An Nubuwah oleh Al Asbahani 1/194, dan kisah ini dihasankan oleh Syeikh Al Albani dalam fiqhus sirah]
Inilah sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah, dan inilah sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam menegakkan kejayaan umat. Dan barang siapa menyelisihi metode ini, sehingga menempuh jalur lain, niscaya kekecewaan dan kegagalanlah yang akan ia tuai Dalam pepatah dinyatakan:
“Barang siapa yang tergesa-gesa ingin memetik sesuatu sebelum saatnya, niscaya ia akan dihukumi dengan kegagalan mendapatkannya.”

Pendidikan Islam telah dimulai sejak jaman Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad membangkitkan kesadaran manuisa terhadap pentingnya pengembangan bidang keilmuan dan atau pendidikan. Memang perintah Allah kepada nabi Muhammad adalah untuk membuka pintu gerbang pengetahuan bagi manusia dengan mengajari atau mendidik. Nabi Muhammad sebagai seorang yang diangkat sebagai pengajar atau pendidik (mu’alim). Disamping itu beliau diperintahkan oleh Allah untuk menyebarkan pesan-pesan Allah yang terkandung dalam Al-quran. Dapat dikatakan bahwa Nabi Muhammad adalah pengajar atau pendidik muslim pertama.
Setelah Rasulullah wafa maka pemerinah Islam dipegang secara bergantian leh Abu Bakar, Umar bin Khtab, Ustman bin Afan, dan Ali bin Abi Thalib. Pendidikan islam pada saat itu adalah pembudayaan ajaran agama Islam  ke dalam  lingkungan budaya bangsa-bangsa sekitar jazirah Arab, yang berlangsung bersamaan dan mengikuti berkembangnya wilayah kekuasaan islam. Proses pengembangan pendidikan Islam pada masa ini sebagian besar memang diwarnai oleh pengajaran atau pembudayaan Al-quran dan sunnah ke dalam lingkungan budaya bangsa-bangsa secara luas pula. Para khalafaur Rasyidin dan sahabat adalah pelaku utama dalam pendidikan islam pada masa itu. Yang kemudian digantikan oleh para tabiin, namun berkembang sebagaimana masa sesudahnya. Begitu pula dalam hal pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa Nai Muhammad SAW. yang menekankan pada pengajaran baca tulis dan ajaran-ajaran Islam.
Dengan berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin maka mulailah kekuasaan banu Ummayah serta Bani Abbasiyah, yang menemui puncak kejayaan pendidikan Islam pada masa bani Abbasiyah. Kemajuan yang tidak ada tantinannya di kala itu. Pada masa ini, kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan pendidikan serta peradaban dan kebudyaan, sehingga Islam mencapai masa keemasan, kejayaan dan kegemilangan. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa Bani Abbasiyah periode pertama.
BAB II
KEJAYAAN UMAT ISLAM SETELAH ROSULULLAH
(ABU BAKKAR, UMAR BIN KHOTTOB, UTSMAN BIN AFFAN, ALI BIN ABI THOLIB)
Setelah Rasulullah wafat, peradaban Islam member contoh bagaimana cara menegndalikan negara dengan bijaksana (hikamt), kebijaksanaan ini adalah politik yang mengandung hikmat, bergerak,berpikir, bertindak, berlaku, berbuat, yang dalam istilah sekaran disebut taktik, strategi dalam diplomasi yang berbau kelincahan dan kelicikan. Al-quran dan al-Hadits telah mentukan batas-batas yang diperbolehkan dan yang tidak, serta memberikan jalan untuk berpikir , bermusyawarah, dan bertindak.
Setelah Rasulullah wafat , maka pemerintahan Islam dipegang secara bergantian oeleh Abu Bakar, Uamar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib. Pada masa Abu Bakar, pada awal pemerintahannya diguncang oleh pemberontakan dari orang-orang murtad, orang-orang yang mengaku Nabi, dan oranmg-orang yang tidak mau  membayar zakat. Oleh karena itu beliau memusatkan perhatian untuk memerangi pemberontakan yang dapat mengacaukan keamanan dan dapat mempengaruhi orang-orang Islam yang masih lemah imannya untuk menyimpang dari Islam.
            Pada masa ini juga sudah terdapat engajaran bahasa Arab, dengan dikuasainya wiyah baru oleh Islam, menyebabkan munculnya keinginan untuk belajar bahasa Arab sebagai pengantar diwilayah-wilayah tersebut. Orang-rang yang baru masuk Islam dari daerah-daerah yang ditaklukan harus belajar bahasa Arab jika mereka ingin belajar dann mendalam ajaran Islam.
Pada masa khalifah utsman kedudukan peradaban Islam tidak jauh berbeda demikian juga pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan dengan masa sebelumnya. Para sahaba diperbolehkan dan diberi kelonggaran meninggalkan Madianh untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang dimiliki. Dengan tersearnya sahabat-sahant besar keberbagai daerah meringankan umat Islam untuk belajar Islam kepada sahabat-sahabat ytang tahu banyak ilmu Islam di daerah mereka sendiri atau daerah terdekat
Pada masa ini pendidikan Islam adalah pembudayaan ajaran Islam kedalam lingkungan budaya bangsa-bangsa disekitar jazirah Arab, yang berlangsung bersamaan dan mengikuti berkembangnya wilayah kekuasaan Islam. Proses pengembngan pendidikan Islam pada masa ini sebgaian besar memang diwarnai oleh pengajaran dan pembudayan la-quran dan sunnah kedalam lingkungan budaya bangsa-bangsa secara luas pula. Para khulafaur Rasidin dan sahabat adalah pelaku utama dalam proses pendidikan pada masa ini, yang kemudian digantikan oleh para tabi’in, namun berkembang sebagaiman masa-masa sesudahnya. Begitu pula dalam hal pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa Nabi Muhammad SAW. yang menekankan pada pengajaran baca tulus dan ajaran ajaran Islam disebabkan oleh perhatian umat Islam terhadap perluasan wilayah Islam dan terjadinya pergolakan politik, khsusunya dimasa ali bin Abi Thalib.
            Perkembangan Pendidikan Islam di Masa Muawiyah, Abbasiyah dan Kekhalifahan Selanjutnya Dengan berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin maka mulailah kekuasaan bani Umayyah. Selama pemerintahan Muawiyyah, daerah kekuasaan umat Islam meluas sampai Lahore di Psakistan. Perharian khalifah diarahkan ke Byzantine di wilayah utara dan barat. Pasukan Muawiyyah mencapai 1700 kapal perang, membuat Muawiyyah dapat menundukkan banyak pulau diantaranya ialah Rodhes dan pulau yang lain di Yunani. Adapun kemajuan penddidikan dan peradaban Abbasiyahmencapai kejayaan terutama pama masa khalifah al-Mahdi dan puncak popularitas baru setelah pemerintahan Harun al-Rasyid yang diteruskan putranya al-Makmur.
            Masa kejayaan ini ditandai dengan perkembangan pesatnya kebudayaan Islam secara mandiri. Dengan berkembangnya luasnya lembaga-lembaga pendidikan Islam, madrasah-masradah dan universitas-uiversitas yang merupakan pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. Pada masa ini pendidikan berkembang sebagai akibat dari hal tersebut dan juga merupakan jawaban terhadap tantangan yang diakibatkan oleh perkembangan dan kemajuan kebudayaan-kebudayaan islam sendiri yang berlangsung sangat cepat. Tumbuh dan berkembangnnya ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam yang sangat cepat, merupakan cirri pendidikan Islam masa ini. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awalnya memang merupakan perpaduan antara unsure-unsur pembawaan ajaran Islam sendiri dengan unsure unsure yang berasal dari luar, yaitu unsure budaya perseia, Yunani, Romawi, India, dan sebagainya. Kemudian dalam perkembangannya potensi atau pembawaan Islam tidak merasa cukup hanya menerima saja unsure budaya dari luar itu, kemudian mengembangkan lebih jauh, sehingga kemudian warna dan unsure –unsur Islamnya Nampak lebih dominan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Kemajuan-kemajuan dalam ilmu pengetahuan keagamaan saja, tetapi juga dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan pada umumnya.

















BAB III
KERAJAAN TURKI UTSMANI
Kerajaan Turki Usmani Abad Pertengahan. Sejarah Berdirinya Berawal dari Bangsa Turki dari kabilah Oguz yang mendiami wilayah Kerajaan Mongol & Daerah utara negeri China, lalu pindah ke Turkistan, Persia dan Irak. Mereka masuk Islam pada abad ke-9 M, saat di Asia Tengah. Adanya serangan-serangan Mongol pada abad ke-13 M, membuat mereka melarikan diri ke arah barat dan mencari tempat tinggal di tengah-tengah saudara mereka, orang Turki Seljuk di dataran tinggi Asia Kecil. Di bawah pimpinan Ertogul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin Kaikobad, sultan Seljuk yang kebetulan sedang berperang melawan Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alauddin Kaikobad mendapat kemenangan dan menghadiahkan kepadanya sebidang tanah di Asia Kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu, mereka mulai mengembangkan daerah itu. Pada tahun 1300 M, Bangsa Mongol menyerang Kerajaan Seljuk dan Sultan Alauddin Kaikobad terbunuh. Lalu kerajaan ini terpecah-belah , kemudian Usman menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah Kerajaan Turki Usmani dinyatakan berdiri.

Tentang pemimpin pasukan turki usmani • Ertogul : Pimpinan bangsa Turki dari kabilah Ogus yang mengabdikan diri pada Sultan Seljuk yang bernama Sultan Alauddin Kaikobad (meninggal pada tahun 1289 M). • Usman (1290 M- 1326 M): Pendiri Kerajaan Turki Usmani, karena beliaulah yang menyatakan kemerdekaan kerajaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Selama pemerintahannya, Usman berhasil menduduki benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan kota Broissa, Turki. Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan Kota Broissa(1326 M dijadikan Ibu Kota kerajaan) pada tahun 1317 M. • Orkhan (1326 M-1359 M): Kerajaan Turki Usmani menaklukan Izmir(smirna)tahun 1372 M, Tawasyanli (1330 M), Iskanderun (1338 M), Ankara (1354 M), dan Gallipoli (1356 M). • Murad I (1359 M-1389 M): Melaksanakan ekspansi sampai ke benua eropa, yaitu: Adrianopel, Macedonia, Sofia, Salonika, dan seluruh wilayah utara Yunani. • Sultan Bayazid I (1389 M- 1402 M): beliau berhasil menghancurkan pasukan Paus yang khawatir akan ekspansi yang dilakukan oleh Murad I, pasukan Paus dipimpin oleh Sijisman, raja Hongaria.
Namun pada tahun 1402 M, tentara Mongol berhasil mengalahkan pasukan Turki Usmani dan Sultan Bayazid I tertawan hingga akhirnya wafat pada tahun 1403 M yang menyebabkan berhentinya ekspansi Kerajaan Turki Usmani. • Murad II (1421 M- 1451 M): penerus usaha muhammad dalam mengadakan perbaikan-perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam negeri saat Mongol terpecah belah pasca wafatnya Timur Lenk (pemimpin pasukan tentara Mongol) pada tahun 1405 M. Pada masa ini, Kerajaan Turki Usmani mengalamin masa kejayaan pada masa Muhammad II yang bergelar Muhammad Al-Fatih. • Muhammad Al-Fatih (1451 M- 1481 M): Pada masanya, KTU mengalami puncak kejayaan dan berhasil menguasai Konstantinnopel pada tahun 1453 M. • Sultan Salim I (1512 M- 1520 M): berhasil menduduki Persia, Suriah, & Mesir.
 Sultan Sulaiman al-Qanuni (1520 M- 1566M): berhasil menduduki wilayah Irak, Belgrade, Pulau Rodes, Tunis, dan Yaman di Asia; Mesir, Libia, Tunisia, Aljazair di Afrika; Bulgaria, Yunani, Albani, Yugoslavia, Hongaria, dan Rumania di Eropa Karena kemajuan dan perkembangan ekspansi negara ini yang demikian luas dan berlangsung dengan cepat itu diikuti pula dengan kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan, antara lain : Militer, Pemerintahan, Ilmu Pengetahuan, Budaya, & Agama.
a. Bidang militer Untuk pertama kalinya kekuatan militer negara ini mulai diorganisasi dengan baik adalah ketika terjadi kontak senjata dengan Eropa. Ketika itu, pasukan tempur Kerajaan Turki Usmani sudah terorganisasi. Pengorganisasian yang baik, taktik, dan strategi tempur militer KTU berlangsung tanpa halangan berarti. Namun, tidak lama setelah kemenangan tercapai, kekuatan militer ini melemah, kesadarn prajuritnya menurun, dan mereka merasa seperti pejabat-pejabat yang berhak menerima gaji. Akan tetapi, keadaan itu dapat diatasi oleh Orkhan dengan jalan mengadakan perombakan besar-besaran dalam tubuh militer. Pembaruan yang dilakukan Orkhan tidak hanya memindahkan pimpinan2 militer, tetapi juga merombak prajurit2nya dalam keanggotaan. Bangsa2 non-Turki dimasukkan ke dalam anggota. Bahkan anak2 Kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit.
Program ini berhasil membentuk pasukan baru yang disebut pasukan Jenissari atau Inkisyariah. Pasukan inilah yang membuat KTU memiliki mesin perang yang sangat kuat dan memberikan dorongan yang sangat besar dalam penaklukan negeri2 nonmuslim. Di samping Jenissari, ada lagi prajurit dari tentara kaum feodal yang dikirim kepada pemerintah pusat. Pasukan ini disebut tentara militer Taujiah. Angkatan Laut juga dibenahi karena memiliki peranan yang besar dalam ekspansi KTU. Kekuatan yang tangguh itu membuat KTU dengan cepat mampu menguasai wilayah yang sangat luas, baik di Asia, Afrika, maupun Eropa. Faktor utama yang mendorong kemajuan di lapangan kemiliteran ini ialah tabiat bangsa turki itu sendiri yang bersifat militer, disiplin, dan patuh terhadap peraturan. Tabiat ini merupakan tabiat alami yang diwariskan oleh nenek moyang mereka di Asia Tengah. •
 b. Bidang pemerintahan Keberhasilan ekspansi KTU dibarengi pula dengan terciptanya jaringan pemerintahan yang teratur. Dalam mengelola wilayah yang luas, sultan2 Turki Usmani senantiasa bertindak tegas. Dalam struktur pemerintahan, sultan merupakan penguasa tertinggi. Ia dibantu oleh sadr al-’azam (Perdana Menteri ) yang membawahi pasya (gubernur). Gebernur mengepalai daerah tingkat I. Di bawahnya terdapat beberapa orang az-zanaziq(bupati). Untuk mengatur urusan pemerintahan negara, Sultan Sulaiman I menyusun sebuah kitab Undang2. Kitab tersebut diberi nama Multaqa al-Abhur yang menjadi dasar hukum di KTU hingga datangnya reformasi pada abad ke 19. berkat jasanya tersebut, Sultan Sulaiman I mendapat gelar Al-Qanuni.
c. Bidang budaya Kebudayaan wilayah Turki Usmani merupakan perpaduan berbagai macam kebudayaan, di antaranya kebudayaan Persia, Bizantium, dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak mempelajari budaya-budaya tentang etika dan tata krama dalam istana raja-raja. Organisasi pemerintahan dan kemiliteran banyak mereka serap dari Bizantium. Ajaran prinsip ekonomi, sosial, kemasyarakatan, keilmuan, dan huruf, mereka terima dari Arab. Orang Turki Usmani memang dikenal sebagai bangsa yang suka dan mudah berasimilasi dengan bangsa asing dan terbuka untuk menerima kebudayaan. Bagaimana pun, sebelumnya mereka adalah orang nomad yang hidup di wilayah asia tengah.  
d. Bidang ilmu pengetahuan Sebagai bangsa yang berdarah militer, KTU lebih banyak memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran. Dalam bidang ilmu pengetahuan mereka tidak begitu menonjol. Oleh karena itu, dalam khazanah intelektual Islam, kita tidak menemukan ilmuan terkemuka dari KTU. Meskipun demikian, mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan2 masjid yang indah, seperti masji Al- Muhammadi atau Masjid Jami’ Sultan Muhammad al-Fatih, Masjid Agung Sulaiman, dan Masjid Abu Ayub al-ansari. Masjid2 tersebut dihiasi dengan kaligrafi yang indah. Salah satu masjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah masjid yang berasal dari gereja bernama Aya Sofia. Hiasan kaligrafi itu menjadi penutup gambar2 Kristiani yang ada sebelumnya. Sulaiman al-Qanuni juga membangun masjid, sekolah, rumah sakit, gedung, makam, jembatan, saluran air, vila, dan pemandian umum di berbagai kota. Menurut sebuah sumber, 235 buah bangunan itu dibangun di bawah koordinasi Sinan, seorang arsitek dari Anatolia.  
e. Bidang agama Dalam tradisimasyarakat Turki, agama mempunyai peranan besar di bidang sosial dan politik. Masyarakat digolong-golongkan berdasarkan agama. Kerajaan sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Oleh karena itu, ulama memiliki tempat tersendiri serta berperan besar dalam pemerintahan dan kehidupan masyarakat. Mufti, sebagai pejabat urusan agama tertinggi, berwenang memberi fatwa resmi atas segala permasalahan yang dihadapi masyarakat. Tanpa legitimasi Mufti, keputusan hukum kerajaan tidak dapat berjalan. Di pihak lain, kajian ilmu keagamaan, seperti fikih, ilmu kalam, tafsir, dan hadis tidak mengalami perkembangan yang berarti. Para penguasa cenderung menegakkan satu faham(mazhab) keagamaan dan menekan mazhab lainnya. Sultan Abdul Hamid II misalnya, ia begitu fanatik terhadap aliran Asy’ariyah. • Nama-nama sultan kerajaan turki usmani • Usman I (1300 - 1323 M) • Orkhan I (1323 - 1360 M) • Murad I (1360 - 1389 M) • Bayazid I (1389 -1402 M) • Muhammad I (1402 – 1421 M) • Murad II (1421 – 1444 M) • Muhammad II (1444 – 1446 M) • Murad III (1446 – 1451 M) • Muhammad III (1451 – 1481 M) • Bayazid II (1481 – 1512 M) • Salim I (1512 – 1520 M) • Sulaiman I (1520 – 1566 M) • Salim II (1566 – 1574 M) • Murad IV (1574 – 1595 M) • Muhammad IV (1595 – 1603 M) • Ahmad I (1603 – 1617 M) • Mustafa I (1617 – 1618 M) • Usman II (1618 – 1622 M) • Mustafa II (1622 – 1623 M) • Murad V (1623 – 1640 M) • Ibrahim (1640 – 1648 M) • Muhammad V (1648 – 1687 M) • Sulaiman II (1687 – 1691 M) • Ahmad II (1691 – 1695 M) • Mustafa II (1695 – 1703 M) • Ahmad III (1703 – 1730 M) • Mahmud I (1730 – 1754 M) • Usman III (1754 – 1757 M) • Mustafa III (1757 – 1774 M) • Abdul Hamid I (1774 – 1789 M) • Salim III (1789 – 1807 M) • Mustafa IV (1807 – 1808 M) • Mahmud II (1808 – 1839 M) • Abdul Majid (1839 – 1861 M) • Abdul Aziz (1861 – 1876 M) • Murad VI (1876 M) • Abdul Hamid II (1876 – 1909 M) • Muhammad VI (1909 – 1918 M) • Muhammad VII (1918 – 1922 M) •


















BAB 1V
RUNTUHNYA KERAJAAN TURKI UTSMANI
Sebab-sebab secara teknis kita serahkan kepada para ahli sejarah, terutama sejarah Turki sendiri. Sedangkan yang akan kita bahas di sini adalah sebab-sebab secara umumnya saja.
A. Sebab Ekternal
 Sudah kita ketahui bersama bahwa Khilafah Turki Utsmani kalah pada perang dunia pertama. Sebagai negara yang kalah perang, maka negeri itu dengan mudah ditindas, dirampok dan juga diperebutkan wilyahnya oleh para pemangsa dan lawan-lawannya.
Sampai terjadi penghinaan yang begitu besar, di mana bangsa Turki yang secara geografis memang penduduk Eropa dilecehkan dengan ungkapan “The Sickman in Europe.” Bahkan kata “turkey” dalam ungkapan mereka merupakan pelecehan, yang artinya ayam kalkun.
Pahlawan dan tokoh muslim Turki pu tidak luput dari penghinaan. Salah satunya adalah Barbarossa si Janggut Merah. Di dalam cerita Asterik, tokoh Barbarosssa muncul sebagai bajak laut yang bodoh. Padahal beliau adalah pahlawan Islam di masanya dan pelaut kafir Eropa sangat takut dengan angkatan perangnya.
B. Sebab Internal
            Penjajahan barat terhadap Turki semakin menusuk tatkala mereka berhasil meraih generasi muda Turki dengan pendidikan ala barat. Tentu saja semua itu untuk mendapatkan satu tujuan, yaitu sekulerisasi selapis generasi. Maka lahirlah kemudian generasi baru yang anti Islam, Islamo-phobia, sekuler, liberal dan berotak barat.
Mereka inilah yang kemudian didukung oleh Eropa untuk menumbangkan lembaga khilafah Islamiyah. Tercatat tokohnya adalah Mustafa Kemal Ataturk yang terlaknat. Sosok ini telah berhasil menumbangkan kPadahal Kemal telah melakukan dosa yang bahkan Iblis pun tidak pernah melakukannya. Yaitu menumbangkan satu rangkaian khilafah Islamiyah yang terakhir. Padahal belum pernah sebelumnya umat Islam di dunia hidup tanpa naungan khilafah.
Sebab khilafah sudah ada sejak zaman Rasululullah SAW hidup, yakni sejak 15 abad yang lalu. Selama itu, umat Islam belum pernah hidup tanpa ada khilafah. Iblis dan para jin tidak pernah mampu menumbangkannya. Tiba-tiba seorang sekuleris yang nota bene agamanya masih Islam, malah menumbangkannya. Walhasil, sejak jatuhnya khilafah Turki, umat Islam masuk dalam bid’ah kubro. Sebuah bid’ah teramat besar yang melebihi semua jenis bid’ah yang pernah ada. Dan tentunya sangat dibenci dan dimurkai. Sebuah bid’ah berupa umat Islam hidup tanpa naungan khilafah.hilafah pada tahun 1924 lewat gerakan Turki Muda.
















BAB V
MUNCULNYA GERAKAN GERAKAN BARU
Gerakan Islam Transnasional Dan Pengaruhnya Di Indonesia
Wajah gerakan Islam Transnasional
  • Bersifat transnasional
  • Ideologi gerakan tidak lagi bertumpu pada konsep nation-state, melainkan konsep umat
  • Didominasi oleh corak pemikiran skripturalis fundamentalisme atau radikal
  • Secara parsial mengadaptasi gagasan dan instrumen modern
Gerakan Islam yang bersifat transnasional
  • Ikhwanul Muslimun
  • Hizbut Tahrir
  • Jihad
  • Salafi Dakwah dan Salafi Sururi
  • Jamaah Tabligh (Gerakan Dakwah)
  • Syiah
1. IKHWANUL MUSLIMUN
Penyebarannya IM kurang lebih di 70 negara, mulai dari Eropa, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Tenggara hingga Amerika Serikat dan Kanada. Hingga kini pusat jaringan IM di Mesir. Sifat jaringan sangat fleksibel dan setengah tertutup. Nama gerakan berbeda-beda di tiap negara. Meskipun demikian, semua disatukan oleh pemikiran dan metodologi Ikhwan. Kekuatan utama gerakan ini adalah pembentukan kelompok-kelompok pengajian (halaqoh)
Secara umum, gerakan Ikhwan sekarang ini terbelah dalam dua arus besar.
  • Ikhwan Tarbiyah
  • Ikhwan Jihad
2. IKHWANUL MUSLIMIN TARBIYAH
            Ikhwan versi tarbiyah merupakan ikhwan versi resmi. Secara internasional dikendalikan oleh Mursyid Am ketujuh yaitu Muhammad Mahdi Akif. Ikhwan versi tarbiyah tidak terlalu radikal.
            Tujuan utamanya tetap, yaitu membentuk “daulah Islamiyah”. Namun, cara yang ditempuh bersifat non kekerasan. Mereka dapat memanfaatkan instrumen demokrasi untuk mewujudkan cita-cita tersebut.
            Kemenangan partai Ikhwan di Aljazair, FIS, menjadi momentum penting bahwa jalur tarbiyah, moderat dan parlementarian, dapat menemukan efektivitasnya.
            Model tarbiyah kemudian diterima secara luas di beberapa negara, termasuk Indonesia. Model ini sekarang menjadi katup penyelamat penting, tatkala Ikhwan Jihadi sedang terpukul di beberapa negara
3. JIHADI: (IKHWANI DAN SALAFY)
  • Mewabahnya gerakan jihad dipicu oleh perang Afganistan
  • Bahan baku utama gerakan ini terutama berasal dari gerakan Ikhwan sayap radikal dan Salafy sayap radikal
  • Pemikir besarnya adalah Abdullah Azzam, Aiman Zawahiri, dan Syekh Abu Muhammad Al Maqdisy. Sedang operator utamanya adalah Usamah bin Laden (berbeda dalam nama dan bahasa, namun bersatu dalam bentuk dan tujuan- muhtalifah al asma’ wal al lughat muttahidah al asykal wa al aghrad)
  • Pertemuan antara pengikut ikhwan sayap radikal dan salafy radikal inilah yang menjadi tiang utama gerakan jihad.
  • Pengikut gerakan ini sebagian besar adalah alumni Afgan, Moro dan Chehnya.
  • Bahan baku gerakan jihad di Indonesia terutama berasal dari aktivis Darul Islam (DI) Faksi Abdullah Sungkar.
  • Dalam konteks rekrutmen dan pematangan jamaah jihad, Abdullah Sungkar dan Baasyir merupakan tokoh kunci
  • Basis pendukung gerakan jihad umumnya masih didominasi pengikut DI, khususnya jaringan pesantren Ngruki serta alumni Afgan dan Moro
4. HIZBUT  TAHRIR
  • Perbedaannya dengan ikhwan adalah penolakannya  terhadap konsep demokrasi dan tekanannya terhadap  paham kekhalifahan.
  • Metode perjuangan: tiga tahap (kaderisasi, sosialisasi, dan merebut kekuasaan).
  • Agenda utamanya adalah  mewujudkan  proyek kekhalifahan dunia
  • Pusat jaringan  kemungkinan  berada di The West Bank dan  kini dikendalikan oleh Abu Rashta.
  • Wilayah  pengembangan utama HT adalah negara-negara Asia Tengah, seperti Uzbekistan, Tajikistan  dan Kazahtan. HT  juga kuat di  Asia Selatan,  terutama Bangladesh dan Pakistan.
  • Gerakan Hizbut Tahrir di Indonesia berawal dari para aktivis masjid kampus Masjid Al-Ghifari, IPB Bogor. Dibentuk kemudian halaqah-halaqah (pengajian-pengajia kecil) untuk mengeksplorasi gagasan-gagasan HT.
  • Sebuah konferensi Internasional soal Khilafah Islamiyah digelar di Istora Senayan pada 2002. Konferensi juga menandai lahirnya organisasi Hizbut Tahrir di Indonesia. Organisasi ini langsung memproklamirkan diri sebagai partai politik yang berideologi Islam, namun menolak bergabung dengan sistem politik yang ada.
  • Penolakan ini merupakan bentuk baku dari HT Internasional.
  • Pimpinan HTI sekarang adalah Hafidz Abdurrahman.
  • Dalam pengembangannya, sasaran dakwah HT adalah masjid-masjid jami di kabupaten.
5. SALAFI DAKWAH
  • Gerakan Salafi Dakwah merupakan bagian dari paham Wahabi.
  • Gerakan ini untuk membendung pengaruh Ikhwanul Muslimin, Syi’ah, Hizbut Tahrir, Jama’ah Tabligh dan aliran lainnya.
  • Gerakan ini berkembang secara internasional melalui jaringan guru-murid ulama-ulama Wahabi dan dukungan dana pemerintah Saudi Arab.
  • Tokoh sentral gerakan ini adalah Bin Baz, Al-Bani, dan Syekh Muqbil.
  • Pendekatan: tekstual, kemurnian aqidah, dan apolitik
6. SALAFI DAKWAH DAN SALAFI SURURI
  • Gerakan salafi  baru muncul di Indonesia pada awal dekade 1980-an.
  • Alumni LIPIA angkatan pertama, kini menjadi tokoh terkemuka di kalangan salafi.
  • Generasi pertama LIPIA tersebut sangat anti terhadap kelompok Ikhwanul Muslimin, Hizbut tahrir, Jamaah Tabligh dan Darul Islam.
  • Di Indonesia sendiri, banyak sekali kalangan salafi termasuk sururiyah atau yang mempunyai pandangan yang berbeda dengan kalangan salafi puritan
  • Oleh karena modus pengembangan berbasis pesantren, maka gerakan salafy di Indonesia umumnya bertabrakan langsung dengan konstituen NU.  Hal ini sudah terjadi di NTB di mana sejumlah konflik terbuka sudah berlangsung.
  • Meskipun secara teoritis dapat seiring dengan Persis, namun dalam kenyataannya Salafy cenderung mengambil jarak dengan Persis.
  • Salafy juga mengambil sikap konfrontatif dengan Ikhwan, Syiah maupun Jamaah Tablig.
7. GERAKAN SYI’AH
Jaringan  Syiah internasional sekarang  ini terbagi dalam dua  wilayah.
  • Pertama, wilayah utama yaitu daerah bekas wilayah imperium Persia. Dalam wilayah utama, pengembangan Syiah dilakukan  dengan pendekatan  politik dan kultural.
  • Wilayah kedua adalah  wilayah pinggiran dimana  areanya meliputi  negara-negara di luar wilayah imperium Persia. Dalam wilayah ini, pendekatan kultural lebih diutamakan. 
      Secara kultural, Syi’ah telah masuk ke Indonesia bersamaan dengan kedatangan Islam ke Nusantara melalui jalur perdagangan dan dakwah dalam bentuknya yang taqiyah.
      Setelah terjadi Revolusi Islam Iran (1979), pada awal gerakannya bersifat intelektual, namun sejak kehadiran alumnus Qum gerakan Syi’ah mulai mengembangkan Fiqh Syi’ah, sehingga muncullah lembaga-lembaga Syi’ah.
Syi’ah di Indonesia ada dua corak:
·         Syi’ah Politik, untuk membentuk Negara Islam (para pengikut ide-ide politik dan intelektual Syi’ah)
·         Syi’ah non politik, untuk membentuk masyarakat Syi’ah (para pengikut fiqhiyah syi’ah)
Syiah mengalami perselisihan, namun  tidak mengarah kepada perpecahan, karena saling melengkapi:
Kubu pertama adalah LKAB (Lembaga komunikasi Ahlul Bait) yang merupakan wadah para alumni al Qum. Kubu ini dimotori oleh ICC Jakarta yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah Republik Islam Iran (RII).  LKAB membawai Yayasan Al Munthazar, Fathimah Aqilah, Ar Radiyah, Mulla Sadra, An Naqi, Al Kubra, Al Washilah, MT Ar Riyahi dan gerakan dakwah Al Husainy. LKAB berkantor di Jl Bintaro KODAM Grand Bintaro Jaksel.
Kubu kedua  dipegang oleh IJABI.  Dalam kubu ini metode taqiyah kurang disenangi. Sebaliknya, IJABI tampak lebih pluralis. Hal ini terlihat dari beberapa tokoh Sunni yang menjadi  pengikut IJABI.  Kiblat IJABI, bukanlah ke Iran, melainkan  Marja Lebanon di bawah pimpinan Ayatollah Sayyed Mohammad Hussein Fadlallah. Tokoh utama di Indonesia adalah Dr Jalaluddin Rahmat.
Para pengikut Syi’ah keturunan Arab melakukan gerakan dengan bertaqiyah (sikap menyembunyikan diri), tidak mau berterus terang mengakui sebagai pengikut syi’ah, secara dhahir mereka tampil sebagai orang syafi’i, seperti Habib Ali Baagil (otak pengeboman Gedung BEJ), Habib Husein Al Habsyi (Presiden Ikhwanul Muslimin Indonesia), Abdullah As Segaf (Ikatan persatuan Ahlul Bait Indonesia), Habib Saleh Al Idrus (majelis Dzikir Nurkhaerat Poso-tokoh perlawanan Poso) dll.
Jaringan Syiah di Jawa Timur berpusat di Ponpes YAPI Bangil pimpinan Ustad Husen Al Habsyi, sedangkan jaringan Syi’ah di Jawa tengah berpusat di Ponpes Al Hadi Pekalongan pimpinan Ahmad Baraqbah dan Toha Musawa. Di Yogyakarta bepusat di Yayasan Roushan Fikr yang dipimpin oleh Sofwan (kader Syiah radikal).
LANGKAH UTAMA SYI’AH INDONESIA SAAT INI:
·         Mengkonsolidasikan semua yayasan Syi’ah dan meminimalisir perbedaan
·         Berupaya keberadaanya diterima oleh kalangan muslim Indonesia dengan melakukan kegiatan-kegiatan sosial.
·         Berupaya mendirikan Marja al Taqlid sebuah institusi agama yang sangat terpusat, diisi oleh ulama-ulama syi’ah terkemuka dan memiliki otoritas penuh untuk pembentukan pemerintah dan konstitusi Islam
8. JAMAAH TABLIGH (GERAKAN DAKWAH)
·         Apolitik
·         Gabungan antara wahabisme dan suffisme.
·         Menjadi  bahan baku  bagi gerakan sunni radikal (Harakatul Mujahidin)
Jamaah Tabligh di Indonesia mempunyai anggota yang cukup banyak. Anggota Jamaah Tabligh di Indonesia sangat bervariasi, mulai dari artis seperti Gito Rollies sampai dengan tentara, kalangan profesional dll.
Sasaran  utama pengembangan  Jamaah Tablig  umumnya   kalangan perkotaan  terutama yang tidak menyukai aktivitas politik dan  ada minat terhadap  sufisme. Sebanyak 20.000 anggota jamaah tabligh siap khuruj ke berbagai pelosok di Indonesia.



BAB VI
SOLUSI UNTUK MENYATUKAN UMAT ISLAM
Dengan munculnya gerakan – gerakan atau harokah – harokah seperti : ihwanil muslimin, hisbuttahlil Indonesia, Jamaah Tabliqh, salafi. Ini adalah salah satu gerakan – gerakan yang kontemporer ataupun yang paling banyak pengikutnya di seluruh dunia, yang tidak lain mereka mempunyai tujuan yang sama tetapi cara penyampaian atau cara berdakwah mengajak untuk kebaikan barbeda –beda, yang tidak lain tujuan mereka adalah untuk kejayaan Islam.
Adapun solusi kita untuk menyatukan umat Islam.
1. Salah satu dari gerakan atau harokah – harokah tersebut masuk dan menguasai parlementer    negara meliputi MPR, DPR, ataupun presiden.
2. saling mempunyai sikap menghargai, toleransi, tidak saling menyela bahwa semua gerakannya adalah benar.
3. membentuk forkom (forum komunikasi) tiap harokah atau gerakan.










BAB VII
PENUTUP
KESIMPULAN DAN SARAN
A.  KESIMPULAN
Pendidikan islam yang dimulai dari masa Nabi Muhammad SAW. Khulafur Rasyidin, serta Masa Muawiyyah dan Abbasiyah serta kekhalifahan selanjtnya, yang pada puncak kemjuan  ilmu dan kebudayaan Islam adalah terjadi pada masa Daulah bani Abbasiyah.
Perkembangan kemajuan pendidikan Islam ada dua factor yang saling mempengaruhi, yaitu factor intern atau pembawaan dari ajaran agama Islam itu sendiri dan factor eksteren , yaitu berupa rangsangan dan tantangan dari luar.
Faktor dari dalam yang berupa pembawaan dari ajaran agama Islam itu sendiri, dan ekstern seperti; Fuilsafat Yunani yang mulai berpengaruh dikalangan ilmuan muslim pada masa pemerintahan Bani Umayyah dan mencapai puncaknya pada masa Bani Abbasiyah, ketika karya-karya filosof Yunani diterjemahkan kedalam bahasa Syirah oleh Hunayn dan anaknya menerjemahkan dari bahasa Syirah ke bahasa Arab. Metode-metode berpikir yang digunakan oleh filosof Yunani memberikan motivasi bagi ilmuwan muslim untuk lebih banyak berkarya dalam kemajuan pendidikan Islam sehingga mucul ilmuwan seperti Jabir ibn Hayyan, Al-Khindi, Al-razi, Al-Khawarizmi, Al-Farabi, Ibnu Ummar Khayyan, Ibnu Rusyid dan sebagainya
Puncak perkembangan dan kebudayaan pemekiran Islam terjadi pada masa pemerinthan Bani Abbas. Akan tetapi, tidak berarti seluruhnya berawal dari kreatifitas penguasa Bani Abbas sendiri. Sebagian di antaranya sudah simulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan, misalnya diawal Islam, lembaga pendidikan sedah mulai berkembang. Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas, dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena disamping terdapat kitab-kitab, disana juga orang dapat membaca , menulis, memahami dan berdiskusi.
Demikianlah pendidikan islam pada masa kemajuan Islam, kemajuan yang tidak ada tandingannya di kala itu. Pada masa ini kemajuan politik serjalan seiring dengan kemajuan pendidikan, peradaban, dan kebudayaan. Sehingga Islam mencapai masa keemasan, kejayaan dan kegemilanan. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan Bani Abbas periode pertama.
  1. Gerakan Islam transnasional masih akan terus berkembang luas di masyarakat Indonesia.
  2. Akan menggerogoti basis-basis gerakan Islam lokal. Basis Muhammadiyah  di perkotaan  umpamanya, sekarang ini sedang digerogoti oleh jamaah Ikhwan dan HT. Jamaah tabligh mengerogoti beberapa konstituen penting NU di perkotaan. Sedangkan gerakan salafi, berusaha mengambil jamaah NU puritan dengan pendekatan pesantren. Adapun Jamaah Tabligh  sedang mengincar komunias-komuntas sufi.
  3. Untuk sementara ini, konflik besar antara gerakan Islam lokal dan gerakan Islam Transnasional memang belum terjadi. Namun, letupan-letupan kecil sudah terjadi, seperti kasus di NTB. 
  4. Sesama  jaringan internasional di Indonesia ternyata  terlibat  ketegangan yang kuat. Jamaah  Ikhwan umpamanya, tidak pernah bertemu dengan  HT.  Sedangkan Salafi  sangat getol  mengecam  gerakan Ikhwan, HT, maupun Jamah Tablig.
  5. Meskipun terjadi persaingan yang serius,  semua gerakan transnasional tersebut ternyata bertemu dalam agenda   terwujudnya pemerintahan Islam.  Kecuali Salafi Dakwah  dan  Jamaah Tablig yang, untuk sementara, bersifat apolitik.
  6. Apabila melihat kecenderungannya, maka jamaah Ikhwan, HT dan Syiah  tampaknya  paling berpotensi untuk terus membesar.  Ketiga jaringan ini untuk masa yang akan datang menjadi saingan serius gerakan Islam lokal.
  7. Gerakan Islam lokal (Sunni moderat) tampaknya paling ketinggalan dalam kompetisi  global ini. Hal ini karena, gerakan Islam lokal semata-mata berbasis nation-state  dan tidak mempunyai  jaringan internasional yang kuat.  
B.   SARAN
            Majunya pendidikan islam pada saat tu merupakan upaya-upya yang dilakukan para cendikiawan muslim untuk memajukan umat Islam tentunya, yang  saat ini masih dapat dirasakan keberadaannya. Untuk itu sebagai seorang peljar hendaknya mampu menggali potensi-potensi yang telah dimiliki, dengan mempelajari ilmu-ulmi pengetahuan yang berguna tentunya, untuk mencapai ridha illahi dan mampu untuk memajukan pendidikan Islam sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendahulu-pendahulu kita. Pengetahuan yang telah dikembangkan sebagai hasil perkembangan pemikiran dan ilmiah dikalangan kaum muslimin pada masa jayanya, harus mampu untuk dipelajari sebagai bekal kita untuk mengembangkan serta memajukan pendidikan Islam. Semoga apa yang telah dilakukan cendikiawan-cendikiawan muslim terdahulu seagai upaya yang telah dilakukan untuk memajukan pendidikan Islam dapat menjadi motivasi bagi para pelajar untuk lebih giat belajar dan mampu meningkatkan prestasinya, bagi pendidikan Islam.