Selasa, 03 April 2012

Laporan Pengujian Magnetik


LAPORAN PENGUJIAN MAGNETIK

A.    PENDAHULUAN
1.      Latar belakang

Salah satu dari fungsi pengujian magnetic ini  adalah untuk mengecek suatu permukaan benda dengan  metode-metode yang telah disediakan. Mesin ini dirancang untuk mengetahui secara detail kecacatan suatu benda dari jarak pandang yang tidak bisa dilihat dengan jelas oleh mata manusia biasa. Oleh karena itu pengujian magnetic ini sedikit lebih baik dari pada pengujian penetrasi. Dan alat ini  sangat simple sekali hanya membutuhkan magnet sama aliran listrik dan serbuk fero magnetik. Oleh karena itu alat ini sering kali disebut alat tidak merusak (NDT) yang mana sering kali dipakai oleh para penguji.

2.      Tujuan

Tujuan dari uji magnetik partikel adalah untuk mendeteksi discontinuity bahan logam ferro pada permukaan atau discontinuity sub surface. Biasanya pengujian ini dilakukan pada benda kerja pada semua tahapan produksi.

3.      Dasar Teori

Magnet merupakan suatu logam yang dapat menarik besi, dan selalu memiliki dua kutub yaitu kutub utara dan kutub selatan. Dimana arah medan magnet disetiap titik bersumber dari kutub utara menuju ke selatan dan mengarah dari kutub selatan ke utara di dalam magnet.

 3.1.  Prinsip Dasar pengujian Magnetik Partikel
Spesimen atau benda uji tersebut dimagnetisasi dengan cara memberikan arus listrik. Karena perlakuan yang seperti itu, maka pada benda uji akan timbul medan magnet sebagai akibat dari adanya beda potensial (arus listrik mengalir dari tegangan tinggi ke tegangan rendah). Pada daerah tersebut ditaburkan serbuk ferro magnetik. Selanjutnya serbuk ferro magnetik tersebut akan mengikuti bagian yang cacat dari benda uji tersebut.

3.2. Jenis-jenis Magnet

1. Magnet permanen
Merupakan bahan-bahan logam tertentu yang jika dimagnetisasi maka bahan logam tersebut akan mampu mempertahankan sifat magnetnya dalam jangka waktu yang lama (permanen).

2. Elektromagnet
Merupakan magnet yang terbuat dari bahan ferro magnetik yang jika diberikan arus listrik maka bahan tersebut akan menjadi magnet, tetapi jika pemberian arus listrik dihentikan, maka sifat magnet pada bahan tersebut akan hilang.

3. Metode Magnetisasi
1. Magnetisasi longitudinal :
Dihasilkan dari arus listrik yang dialirkan dalam koil.

2. Magnetisasi Yoke
Magnetisasi dengan menggunakan yoke. Dengan cara ujung kaki yoke ditempelkan pada material yang akan dimagnetisasi.

3. Magnetisasi sirkular.
Magnetik sirkular terdiri dari :

a. Magnetik tak langsung, arus listrik dialirkan ke konduktor sentral. Medan magnet mengenai bahan dan benda yang dilingkupinya
b. Magnetisasi langsung, arus listrik dialirkan pada bahan yang akan dimagnetisasi.
c. Prod, magnetisasi dengan cara material ferromagnetic dililiti dengan logam tembaga kemudial dialiri arus listrik.

4.      Metode Pengerjaan Berdasarkan Waktu Magnetisasi
v  Medan Magnet Kontinyu :
Magnetisasi berlangsung secara terus menerus bersamaan dengan pemberian serbuk ferromagnetik basah (suspensi) atau yang kering.
v  Medan Magnet sisa (residual) :
v  Partikel ferro magnetik (kering atau suspensinya) diberikan setelah proses magnetisasi berakhir.
5. Metode Pengaplikasian Partikel Ferromagnetik
1. Metoda Kering:
Partikel magnetik yang digunakan berupa bubuk kering. Metoda ini digunakan pada permukaan benda uji yang kasar. Suhu kerja yang baik yaitu pada suhu kamar 10oC hingga 55oC, metoda ini juga masih dapat dilakukan pada suhu tinggi asalkan benda uji masih berwujud padat. Metoda ini tidak cocok dilakukan pada suhu dingin karena serbuk ferromagnetic akan lengket terkena embun. Warna partiker ferromagnetik yang dipilih harus kontras terhadap benda uji. Bubuk diarahkan pada lokasi yang diinginkan secara perlahan-lahan, sisa partikel yang berlebih dihilangkan dengan air.
2. Metoda Basah:
Partikel magnetik yang digunakan dalam bentuk suspensi. Metoda ini bisa digunakan pada metoda kontinyu maupun residual. Metoda basah biasa digunakan pada permukaan benda uji yang halus. Metoda ini cocok digunakan pada suhu dingin dan batas maksimalnya adalah tidak boleh lebih dari batas akhir temperatur kamar, yaitu 55oC karena suspensi akan mengalami penguapan jika suhu terlalu panas.

B.     METODOLOGI

·         Prosedur Kerja
1.      Persiapan Alat, yaitu dengan menguji kekuatan yoke terlebih dahulu (Power Lifting of Yoke) berdasarkan ASME section V Article 6 (T-773, 2), yaitu untuk arus AC yoke harus mampu mengangkat beban seberat 4,5 kg (10 lb) pada maximum pole spacing-nya. Apabila yoke masih dapat mengangkat beban yang disyaratkan, maka yoke tersebut masih layak untuk digunakan. Pengujian lifting power ini biasanya dilakukan dalam jangka waktu satu tahun sekali.
2.       Specimen dibersihkan permukaannya dari oil, dan kotoran lain yang berupa karat, lemak, cat, dan kotoran lainnya dengan menggunakan claner.
3.      Material uji disemprot dengan White Contrast Paint (WCP 2) secara merata.
4.      Tunggu sebentar hingga white contrast paint kering
5.       Setelah kering, atur yoke sedemikian rupa sehingga dapat memagnetisasi material uji dengan baik dan pada saat proses memagnetisasi material uji yoke ditempatkan pada posisi yang berbeda-beda sehingga tampak semua discontinuity yang ada pada material uji tersebut baik crack yang ada di permukaan maupun yang sub-surface.

 

Gambar 2.3. Proses magnetisasi                            Daerah cacat pada permukaan

6. Saat yoke memagnetisasi material uji, material uji disemprotkan wet particle hingga tampak cacat yang ada pada material uji tersebut.
7. Amati discontiniuity yang tampak dan catat.
8. Demagnetisasi atau penghilangan sisa-sisa magnet pada spesimen setelah evaluasi. Kemudian material uji diukur sifat magneticnya dengan menggunakan gause meter.
9. Post Cleaning/pembersihan akhir.



























C.    PENUTUP

1.      Kesimpulan
Dari hasil pengujian yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa discontinuity yang terjadi pada shaft adalah discotinuity jenis linier. Retakan ini terjadi karena terjadinya kelelahan pada shaft akibat kerja pada proses mesin.
Discontinuity yang terjadi tersebut harus segera diatasi/diperbaiki sebab jika dibiarkan saja dan tetap masih digunakan, maka dikhawatirkan shaft tersebut akan patah dan dapat merusak komponen-komponen lainnya didalam mesin.

2.      Saran – saran
Semoga laporan pengujian magnetic ini dapat berguna bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya. Dan untuk pembimbing kami mengharap kritik dan saran yang sifatnya membangun guna untuk menunjang pembuatan laporan dihari esok agar dapat lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar